Semangat “Ranger” Terpatri Dalam Jiwa Pasukan Resimen Pelopor

0
41
Aiptu (Purn Tarmoedji

Di usia senja, salah satu saksi sekaligus pelaku sejarah mantan Pasukan Ranger Menpor kala itu termasuk satuan elite era 1950 an sampai 1970 an, masih sangat teringat jelas dalam ingatan seorang Tarmoedji, saat diberangkatkan Tugas tempur konfrontasi Malaysia atau lebih di kenal dengan “Ganyang Malaysia”.

Tergabung dalam RTP 1 (Resimen Tim Pertempuran) dengan Komandan Resimen Pelopor AKBP Anton Soedjarwo (kelak kemudian hari menjadi Kapolri ) pada tahun 1964, dengan Dan Tim Iptu Oyo Tardyono berangkat menggunakan Kapal Duane atau Bea cukai, dari Pelabuhan Tanjung priok menuju perbatasan Malaysia. Masing masing tim tersebar masuk hutan di pedalaman perbatasan Malaysia, kenang Aiptu Tarmoedji masa itu.

Perintah Dan Men AKBP Anton Soedjarwo kepada semua Tim Pertempuran saat itu adalah sabotase serta melemahkan kekuatan musuh bila berpapasan patroli di hutan. Selama kurang lebih 9 bulan di hutan, Tim pertempuran pasukan Ranger ini memang sudah terlatih survival maupun perang hutan, terbukti dalam setiap sabotase pasukan musuh di buat bingung dan takut oleh tim pasukan Menpor dengan sistem mengejar, serta menghadang bahkan memburu pasukan musuh, meskipun dalam satu peleton musuh selalu di dampingi pasukan SAS british (Inggris) tak pernah ada rasa takut sedikitpun bagi Tim Ranger Resimen Pelopor.

Hutan lebat di Pedalaman Malaysia seolah sudah menjadi tempat sendiri bagi tim pertempuran selama konflik Indonesia-malaysia, kenang Tarmoedji kepada wartawan SMI.

Sebelum di serahkan kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1966, pria kelahiran muntilan 1939 ini beserta Tim yang lain sempat tertangkap oleh pasukan Malaysia dan di tahan di kamp tawanan perang di Johor baru selama 9 bulan. Meskipun dalam tahanan, Tarmoedji mengalami penyiksaan dari pihak musuh untuk di paksa menunjukkan posisi pasukan Indonesia yang masih di hutan, hal itu tetap di pegang teguh untuk tidak akan membocorkan rahasia posisi rekan – rekannya yang masih di hutan.

Setelah usai Tugas Tempur Konfrontasi Indonesia-Malaysia 1964-1966, beberapa tahun kemudian Negara memberikan penghargaan atas Perjuangan darma bakti nya serta pengorbanan  kepada Prajurit Ranger Resimen Pelopor Bintang Cakti dari Presiden Republik Indonesia.

Pengalaman selama menjadi Prajurit Resimen Pelopor, Tarmoedji pernah mutasi dinas ke Irian jaya masa itu sekarang berubah nama menjadi Papua, untuk mengisi pembentukan satuan Brimob di daerah tersebut, selain juga melatih masyarakat pribumi Papua untuk hidup menetap tidak berpindah – pindah, karena saat itu masih sangat jauh cara hidup dibandingkan sekarang tandas mantan Ranger yang sekarang berusia 82 Tahun.

Pesan terakhir untuk para generasi muda Kepolisian pada umumnya dan pada khususnya Pasukan Pelopor “Kobarkan semangat pengabdian kepada Negara dan melayani, melindungi masyarakat agar lebih di cintai  rakyat “.

Pewarta : KS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here