Dinamika Pembelajaran Daring, Pembelajaran Tetap Membutuhkan Sentuhan dan Interaksi

0
22

Penulis : Wawan Suwandi Efendi, S.Pd, Ketua K3S Kec. Cisitu/ Kepala SDN Corenda

Tidak diperbolehkanya sekolah tatap muka selama pandemi corona virus disease (Covid-19), menuai pro dan kontra. Diberlakukanya pembelajaran Daring, menjadi dilema tersendiri bagi sekolah dan peserta didik, serta orang tua.

Meskipun pembelajaran masih bisa berjalan dengan sistem daring, Namun teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru dan interaksi belajar antara peserta didik dan pengajar, sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Ditengah segala keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran daring, tapi tuntutan dari kemendikbub harus berhasil.

Pendidikan yang baik, tidak bisa hanya dengan secara daring atau virtual, akan tetapi tetap Pendidikan itu butuh sentuhan dan interaksi. Karena Pendidikan itu sebenarnya “Pemaksaan”, karena  dari yang tidak bisa harus bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Anak itu dilatih, dibimbing dan dibina.

Sebenarnya, kontekstual dalam Pendidikan hanya satu poin, yaitu anak bisa “Membaca”. Telinga bisa membaca, Mata bisa membaca, semua alat indra bisa membaca. Ketika semua anak sudah bisa membaca, disitulah bisa dinyatakan Pendidikan berhasil. Maka konsekuensi penjabaranya nanti mulutnya akan bicara.

Akan tetapi, ketiak  banyak aturan seperti sekarang, seperti Pendidikan tidak boleh tatap muka hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan.

Yang lebih mirisnya lagi, ketika sekolah tatap muka ditiadakan dan diganti dengan sistem daring, tempat – tempat umum seperti Mall dan tempat wisata masih diperbolehkan. Jadi, di masa pandemi ini,  guru memiliki tanggung jawab yang lebih berat.

Melihat dari kondisi masyarakat, pembelajaran daring tidak bisa optimal. Karena dari sisi peralatan, sarana prasarana, serta ekonomi masyarakat.  Tidak semua peserta didik mempunyai, gadget yang mumputi untuk melakukan pembelajaran daring.

Semakin beratnya tanggung jawab guru di masa pandemi ini, berbanding terbalik dengan apresiasi/ penghargaan yang diterimanya. Di Hari Pendidikan Nasional saja 2 Mei yang seharusnya menjadi hari untuk mengapresiasi kinerja dan jasa guru, yang memperingatinya hanya guru saja. Tidak seperti hari – hari peringatan lainya, semua dinas atau instansi dilibatkan. Padahal, maju mundurnya suatu bangsa tergantung dari pendidikanya.

Tertinggalnya Pendidikan di kita, karena selama ini Pendidikan kita hanya teori saja. Seharusnya Pendidikan di kita sudah mulai focus kepada output/ atau produk Pendidikan. Bukan guru saja yang dijejali ssstem, tapi produknya tidak dihitung.

Seharusnya output pendidikan itu yang menghitungnya bukan guru tetapi pengawas. Jadi pengawas bukan hanya memeriksa administrasi guru saja.

Mereka seharusnya memeriksa dulu output atau keterampilan anak didik, kalau anak tidak bisa, baru pengawas itu datang ke gurunya.

Berikan Kebebasan sekolah dan guru untuk berdiri sendiri dalam melakukan kegitan pembelajran,   Badan pengawas Pendidikan tinggal memeriksa produknya, sesuai atau tidak dengan kurikulum bukan ikut mengatur.

Biarkan guru mandiri, ketika nanti hasil kerjanya jelek atau tidak memenuhi/ sesuai kompetensi, baru gurunya ditegur, Karena sistem mengajar guru pasti beda.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here