Ternyata Bisa Ular dapat Digunakan Untuk Pengobatan

0
127

Penulis : Munawir

Rumah di kawasan perumahan Bukit Kencana jaya Semarang itu nampak sedikit ramai dengan lalu lalang orang yang keluar masuk secara berganti-ganti, dari pagi sampai malam hari.

Terkadang suami istri berboncengan, terkadang satu rombongan mobil, terkadang terlihat juga kendaraan berplat merah bahkan mobil dinas TNI ataupun kepolisian.

Mereka datang dengan tangan kosong, tapi keluar rumah itu membawa beberapa botol berisi air mineral.  Terlihat senyum sumringah di wajah tamu-tamu yang keluar dari rumah itu.

Rumah yang menjadi daya tarik kedatangan orang-orang itu pemiliknya bernama Pak Yatno, atau nama lengkapnya Yatno Yuwono. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu memang nampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Senyumnya selalu merekah menyambut kedatangan para tamu, yang kebanyakan mengeluhkan berbagai penyakit yang sudah bertahun-tahun bersarang di tubuh mereka dan tak kunjung sembuh meskipun sudah berobat ke sana kemari bahkan sudah menghabiskan banyak biaya.

Pak Yatno memang sudah terkenal di mana-mana. Akan tetapi dari buku tamu yang disediakan di rumahnya, sejak tahun 2000-an sampai saat ini tercatat sudah 14.000 lebih tamu yang bertandang, mencari kesembuhan di kediamannya.

Untuk diketahui, Pak Yatno adalah anggota SHC (Snake Hunter Club), kota Semarang .

Snake Hunter Club adalah klub dimana para anggotanya sudah mendapatkan serum anti racun/bisa ular dari berbagai jenis ular. Klub ini pada awalnya ditujukan untuk kalangan militer dan pegawai perhutani yang sering berhadapan langsung dengan bahaya gigitan ular, lipan/kelabang, kalajengking pada saat mereka bertugas di hutan .

Snake Hunter Club Indonesia – Wonogiri

SHC atau Snake Hunter Club adalah klub dimana para anggotanya mendapatkan serum anti racun/bisa ular dari berbagai jenis ular. Club ini awalnya ditujukan bagi kalangan militer, pegawai Perhutani, yang sering berhadapan dengan bahaya digigit ular, lipan/kelabang, kalajengking pada saat mereka bertugas di hutan.

Pak Yatno memaparkan bahwa SHC pada masa berikutnya berkembang menjadi klub yang lebih besar dengan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. SHC dirintis pertama kali oleh Lettu Margono (alam), yang kemudian dialnjutkan oleh bapak Nursidin Harjanti yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Guru yang berwenang meraci ramuan serum bisa ular.

Sebagaimana keterangan Pak Yatno, bahwa SHC sering mengadakan penyuluhan dan pengobatan gratis menggunakan bisa ular. Konon serum/ramuan bisa ular dapat mencegah dan mengobati berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri/virus, termasuk didalamnya penyakit berat seperti HIV/AIDS, kanker darah dan kanker tulang.

Snake Hunter Club sering mengadakan penyuluhan dan pengobatan gratis dengan menggunakan bisa ular. Serum/ramuan bisa ular ini dapat mengobati dan mencegah berbagai penyakit yang berhubungan dengan darah yang disebabkan oleh bakteri/virus, termasuk penyakit berat seperti HIV/AIDS, Kanker Darah, Kanker Tulang.

Ada tiga kategori yang dibagi untuk kekebalan terhadap racun bisa ular dan golongan penyakit yang bisa dicegah.

GOLONGAN I

Ini adalah pemberian serum pertama tingkat III,  serum akan menyempurnakan ketahanan tubuh secara permanen. Karena terdiri dari 23 jenis bisa ular

Anggota  yang menggunakan serum ini akan kebal dari gigitan ular jenis dumung macan, taliwangsa, puspa kajang,  serta berfungsi untuk mengatasi berbagai  seperti tetanus , demam berdarah, rabies dan luka cepat kering.

GOLONGAN II

Pada tahap  II ini serum ramuan terbuat dari 4 jenis ular berbisa.
Anggota yang mendapatkan serum ini akan kebal terhadap gigitan ular gibug, Welang, weling, gadung Luwuk. Dan terbebas dari penyakit diabetes, typus, jantung, lever, asma, alergi, luka dalam, hipertensi, maag.

GOLONGAN III

Tingkat I atau level 3 ini anggota akan  kebal gigitan ular jenis dumung/kobra/sendok, dedak Bromo. Selain kebal terhadap gigitan ular ini, anggota juga terhindar dari penyakit  kanker darah, kanker tulang, dan virus-virus berbahaya yang saat ini sedang marak.

Sebagaimana informasi yang disampaikan oleh pak Yatno ,  Snake Hunter Club juga membuka keanggotaan  dengan biaya yang terjangkau, baik untuk yang tinggal di pulau jawa maupun di luar Jawa.

Menurut informasi pak Yatno  biaya tersebut sebagian digunakan untuk operasional organisasi,  pembuatan ramuan obat dan pengolahan serum dan membiayai kegiatan pengobatan GRATIS bagi siapa pun yang memerlukan.

Pak Yatno menambahkan bahawa khusus bagi anggota yang rutin berinteraksi dengan ular, dan sering digigit akan diberikan imunisasi wajib anti bisa kelas I setiap bulannya minimal 10 kali  tanpa biaya.

Anggota yang telah mendapat imunisasi 10 kali dapat mempraktekkan keilmuannya menjadi pelaku pertolongan pada korban gigitan ular, anjing gila, lipan/klabang, kalajlengking, dll. Mereka itu akan diberikan pengajaran dan bimbingan secara gratis dan wajib menolong sesamanya tanpa imbalan, termasuk juga menjinakkan dan menangkap ular di alam bebas.

Pak Yatno adalah salah satu anggota SHC yang telah mendapatkan 10 kali imunisasi, sehingga atas rekomandasi dewan guru SHC, beliau membuka praktek pengobatan di kedimannya.

Di rumah pak Yatno memang bertumpuk kardus berisi air mineral kemasan. Air dalam kemasan inilah yang kemudian diformulasi oleh pak Yatno untuk jalan kesembuahan bagi para pasiennya.

Beliau mendapatkan biang serum ular berbisa ini dari Ketua Dewan Guru SHC, kemudian diformulasi kembali dengan air menggunakan  takaran-takaran tertentu dan diminumkan kepada pasien.

Sebagaimana kesaksian Pak Yatno, diantara belasan ribu yang telah datang ke rumahnya memang tidak semua diberi kesembuhan karena pak Yatno meyakini bahwa semua tergantung kewenangan Sang Khaliq, Sang Pemilik Jiwa, yang berkehendak atas segala sesuatu. Sehingga sembuh atau tidak itu tergantung dari kehendak Allah.

Pak Yatno pada mulanya adalah seorang karyawan perusahaan  farmasi. Dan pada tahun 2005 resign dari pekerjaannya serta menekuni profesinya membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan pengobatan dengan bisa ular.

Pak Yatno menyampaikan bahwa logo di  kedokteran terutama farmasi terdapat gambar ular yang melingkar yang moncongnya berada di bibir gelas. Sebagai simbol bahwa sebenarnya orang yang minum obat pada dasarnya adalah meminum racun. Yang fungsinya sebagai racun positif untuk menangkal racun negatif yang ada di dalam tubuh berupa obat dari hasil pengolahan secara kimia.

Allah SWT, Sang Pencipta sudah menciptakan obat dari segala obat berupa racun yang keluar dari mulut ular berbisa, yang konon menurut pak Yatno, bisa ular yang telah diambil dipanaskan di bawah terik matahari selama kurang lebih 6 jam, setelah 6 jam maka bisa ular  yang semula negatif dan berbahaya bagi tubuh ini menjadi formula bisa ular yang positif ,  sehingga terbentuk kristal, dan dari  kristal yang telah terbentuk inilah yang kemudian diencerkan menggunakan air tawar sehingga bermanfaat bagi proses pengobatan. Tapi semua proses pengolahan bisa ular ini hanya bisa dilakukan oleh ketua dewan guru yang telah berpengalaman mengolahnya.
Sedangkan pak Yatno hanya menggunakan formula yang sudah jadi.

Pak Yatno secara terperinci menyampaikan informasi kepada awak media Suara Metro Indonesia bahwa tingkatan kekebalan berdasarkan tabel serum. Pak Yatno menyebut istilah 321, artinya tingkatan ini berurutan dari tingakatan terendah level 3 ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu Level 1.

Pada Level 3, anggota akan kebal terhadap gigitan ular Talimongso, Cabe, Blandotan Krawang, Gadung, Blandotan Macan, Koros, Puspa kajang, Kadut, Dumung Macan, Tampar, Tali Picis, Bawuk, Samberlilen, Air, Dedak Emprit, Diamond, Lare Angon, Sanca kembang, Sawah, Sanca, Manuk, Phyton, LSD, Dowel, dll.

Pada level 2 anggota akan kebal terhadap  bisa ular Gibuk, Welang/belang, Weling, Gadung Luwuk.

Dan Pada level 1, anggota akan kebal terhadap gigitan ular Sendok/ Cobra
Dedak Bromo.

Sebagaimana keterangan pak Yatno  bahwa  racun apalagi racun dari bisa ular memang memiliki sifat yang mematikan. Akan tetapi juga bermanfaat bagi manusia karena bisa digunakan untuk membunuh berbagai macam penyakit.

Pak Yatno menceritakan pengalaman pribadinya bagaimana mula-mula beliau berinteraksi dengan bisa ular. Setelah beliau menjadi anggota SHC, tetiba ada saudaranya yang menderita berbagai penyakit. Pada mulanya pak Yatno hanya coba-coba memberikan serum bisa ular kepada saudaranya. Yang terkena kanker payudara sembuh, yang terkena ginjal sembuh, yang terkena demam berdarah sembuh , yang digigit ular setelah diberi minum ramuan bisa ular sembuh. Maka dari situlah pak Yatno memiliki keyakinan bahwa ia harus melanjutkan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan.

Maka itulah sejak tahun 2005 pak Yatno resign dari pekerjaannya dan menangani pengobatan menggunakan bisa ular.

Sebagaimana informasi yang disampaikan pak Yatno bahwa bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin.

Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian.

Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya, namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing-masing enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase.

Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan kulit dan otot si korban mati secara cepat.

Tapi, menurut sebuah penelitian di Australia, dalam dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim lain yang cukup populer ada pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini biasanya menyerang sistem saraf dan membuat otot menjadi kendur. Nah, enzimcholin esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung dan stroke.

Norbert Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset terhadap bisa ular untuk mengobati alergi dengan cara memasukkan alergen yang ada dalam bisa ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan dan dosisnya akan terus dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan antibodi terhadap zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya.

Diakuinya bahwa di Indonesia, belum ada penelitian tentang manfaat serum atau organ ular lainnya bagi pengobatan.

“Sejauh ini, maraknya pengobatan dengan menggunakan organ ular lebih kepada pengalaman”, pungkasnya.

“keterangan Gambar Ketua Dewan Guru SHC Bapak Nursidin , insert Yatno Yuwono”

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here