SULITKAH KITA BERUBAH ?

0
17
Founder Rumah Pemberdayaan Tembalang Semarang, Theresia Dewi Setyorini,Psikolog

Oleh : Th. Dewi Setyorini, Psikolog Founder of Rumah Permberdayaan, Semarang

Setelah gempuran pandemi Covid-19 memutar balikkan tatanan kehidupan, cepat atau lambat semuanya akan bergulir kembali. Dua bulan lebih kita menahan diri sambil melihat dan berjaga, mengenali musuh dan membaca peluang. Tak mudah memang untuk mengambil satu keputusan karena konsekuensinya akan berdampak pada banyak hal. Kehati-hatian menentukan sikap adalah langkah yang bijak demi menjaga kehidupan untuk tidak rontok. Setiap detil strategi dikaji, setiap pertimbangan disusun, apapun keputusannya, akan selalu seperti pisau bermata dua. Perdebatan antara mana yang menjadi prioritas tak layak dinilai secara negatif karena semuanya berpegang pada azas kemaslahatan bersama. Pada akhirnya akan sampai pada titik temu yang kembali berpulang pada kepentingan masyarakat di atas segalanya.

Cepat atau lambat kehidupan dikembalikan pada fungsi sejatinya. Sebagai manusia, tak mungkin selamanya hanya diam karena sejatinya kemanusiaan adalah bekerja. Bekerja adalah beribadah. Pengejawantahan manusia untuk meneruskan generasinya dan menjaga kelangsungan hidup. Semuanya memang tak akan sama dengan saat sebelum pandemi terjadi. Akan ada banyak penyesuaian, adaptasi, kompromi, dan aturan untuk mengatur bagaimana kita hidup, bekerja, beribadah, dan bermasyarakat. Akankah selamanya demikian? Harapannya tentu tidak. Hingga vaksin ditemukan, rasanya kita harus sejenak menahan diri dan berjaga-jaga dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Mau tak mau kita harus berubah karena tatanan baru akan segera diterapkan. Meski semuanya masih dalam proses ke arah eksekusi, namun tak dapat dipungkiri bahwa kita akan memasuki sebuah babak baru. New Normal. Kehidupan akan ditata ulang, diberi rambu-rambu untuk mengarahkan bagaimana kita hidup, bagaimana kita menjalin relasi, bagaimana kita bekerja, bahkan bagaimana kita beribadah.  Sebuah kehidupan yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun demi keselamatan bersama, semuanya harus kita lakukan. Persoalannya, mudahkah kita berubah? Selama ini kita sudah menikmati sebentuk kehidupan yang lebih lentur, tanpa protokol kesehatan yang harus kita rujuk, dan kini saatnya kita dihadapkan pada situasi dimana kita perlu tunduk demi hidup kita dan orang lain.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan yang akan selalu dihadapi oleh manusia. Dalam tiap detik dan menit, kehidupan tak akan pernah sama. Tak semua orang dapat berubah dengan cepat. Ada orang yang begitu mudah berubah sesuai dengan tuntutan keadaan, namun banyak pula orang yang sulit berubah, bahkan resistan terhadap perubahan tersebut. Resistensi terhadap perubahan lebih banyak terjadi karena adanya kecemasan bahwa kita tak akan mampu berdinamika dalam kompetisi hidup yang begitu ketat, mungkin juga kita tak banyak memiliki modalitas untuk berubah. Kemungkinan lain karena kita merasa cemas tak akan mendapatkan porsi yang sama sebagaimana yang saat ini kita dapatkan, pun karena kita tak yakin bahwa kita mampu berubah.

Perubahan akan membutuhkan skill atau ketrampilan tertentu yang tak semua orang akan mudah memilikinya. Penolakan atau bertahan pada kondisi yang sama sering terjadi karena orang kadang melihat bahwa dirinya tak akan mendapatkan benefit (manfaat) dari perubahan tersebut. Pembangkangan, penolakan, dan bertahan pada kondisi yang sama, menjadi pekerjaan rumah bersama karena akan sulit sebuah gerbong besar ditarik jika terdapat hambatan untuk membenahi diri.

Dalam konteks psikologi, kesiapan untuk berubah atau readiness to change merupakan sebuah mindset yang muncul untuk mengimplementasikan perubahan yang mencakup keyakinan, sikap dan intensi terhadap target perubahan dengan mempertimbangkan kapabilitas untuk mengimplementasikan perubahan itu sendiri. Readiness adalah faktor yang paling penting untuk mensupport perubahan tersebut  (Holt et al., 2007). Dalam hal ini tingkat kesiapan individu akan bervariasi tergantung pada modalitas yang dimiliki dan harapan akan benefit (manfaat) yang bisa diperolehnya dari perubahan tersebut. Modalitas dalam hal ini sumber daya diri yang dimiliki bisa dalam bentuk kemampuan, ketrampilan, relasi, finansial, pengetahuan, pendidikan, dan masih banyak lagi.

Selama kita masih memiliki kehidupan ini, selamanya tak akan mampu mengelak setiap perubahan yang ada. Kenyataannya tak semua orang memahami bagaimana dan mengapa mereka harus berubah. Fakta bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang meremehkan protokol kesehatan yang ditetapkan adalah sebuah kenyataan bahwa tak semua orang memahami untuk apa mereka harus membiasakan diri terhadap sesuatu yang sama sekali baru. Banyak dari kita yang belum disiplin dan memegang teguh aturan yang ada, tak sedikit yang mengabaikan cuci tangan, dan tak jarang banyak yang tetap berkumpul tanpa memperhatikan keselamatan diri dan orang lain, meremehkan penggunaan masker, dan mengabaikan jarak antar sesama. Hal ini memicu pertanyaan begitu sulitnyakah kita berubah.

Sebenarnya arah perubahan apa yang akan kita tuju terkait dengan pandemi Covid-19 ini? ini adalah pertanyaan yang rasanya perlu dirujuk jawabannya terlebih dahulu. Perubahan apa yang sebenarnya akan terjadi dan mengapa hal itu harus kita lakukan.

Sebagaimana yang kita tahu bersama, pandemi Covid-19  belum akan berlalu dari kehidupan kita, dan tak selamanya kita mengurung diri di rumah. Meski berbagai konsekuensi ada didepan mata dan sedang dikaji, kenyataannya adalah hidup harus dilanjutkan. Sejalan dengan hal itu, maka perlahan denyut nadi ekonomi akan mulai berdegup. Meski dampak virus Corono ini tingkat prosentase kematiannya kecil, namun karena serangannya masif dan sulit diduga, maka yang dibutuhkan adalah kehati-hatian dan kewaspadaan. Tak jarang orang meremehkan seakan virus ini tak lebih dari virus flu saja.

Kita mungkin tak pernah membayangkan bagaimana perjuangan yang dihadapi saat terkena vius ini bagi sebagian orang yang rentan. Efek mematikannya bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu secara khusus pada  orang tua. Kerusakan organ tubuh yang vital akan menjadi kondisi yang dapat memicu kematian. Hal inilah yang sering tak kita sadari bahwa yang kuat sebenarnya menularkan virus itu kepada yang lemah. Dalam hal inilah  kehati-hatian ditekankan agar kita tak menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Pada dasarnya saat ini kita sedang membangun empati bersama dan kepedulian pada orang lain. Kita tak bisa mengambil posisi semau kita sementara kita sendiri menjadi ancaman besar bagi yang lain, entah orang tua kita sendiri, teman atau orang yang tak kita kenal sama sekali. Karena itu, kita dituntut untuk mematuhi protokol kesehatan demi menjaga agar virus ini tak begitu saja menyerang orang lain. Mengubah pola hidup keseharian inilah yang sebenarnya menjadi perubahan utama kita karena dampaknya tak semata aspek medis, namun sosial, dan ekonomi. Kita sudah merasakannya, bahwa saat ini kondisi ekonomi terpuruk hanya dalam hitungan bulan, dan itu tak hanya terjadi di Indonesia namun di hampir sebagian besar dunia. Jika kita berperilaku semau sendiri dan menyepelekan protokol kesehatan, hal itu sama saja dengan mengajak seluruh dunia bunuh diri cepat atau lambat.

Ada beberapa point yang dapat kita lakukan untuk menyiapkan diri menghadapi perubahan, sekecil apapun :

  1. Terima kenyataan bahwa hidup selalu dinamis dan bisa berubah setiap saat. Hari ini atau nanti tak akan lagi sama. Kita perlu menerima kenyataan itu apapun konsekuensinya, terutama jika kita ingin tetap menjadi pemain utama dalam perubahan dan bukan semata penonton atau bahkan korban perubahan.
  2. Siapkan mental set. Perubahan dapat kita lihat sebagai hambatan, tantangan, atau peluang tergantung mental set yang kita miliki. Semua effort (usaha) entah positif atau negatif, semuanya menuntut energi yang sama. Alih-alih mengeluarkan energi yang tak perlu atau negatif yang mengedepankan emosi, lebih baik kita baca sebagai peluang, sekecil apapun ambil peluang tersebut.
  3. Tak selamanya perubahan sesuai dengan diri kita, bisa saja justru bertentangan. Pelajari, kaji, dan dalami, dimana posisi kita dan bagaimana kita bersikap, kedepankan sikap cerdas, kritis, dan perbanyak informasi. Jika perlu ajak orang lain berdiskusi, sharing, buka kemungkinan perdebatan secara rasional dan objektif.  Fakta bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihindari akan memberikan fleksibilitas dalam kita melihat dan menyikapi.
  4. Perbanyak relasi, bangun networking, lebarkan pengaruh. Satu teman akan memberikan satu peluang, bayangkan jika kita memiliki banyak teman, maka akan lebih banyak peluang. Kelola dan terus-menerus diperbaharui hingga menjadi asset yang dapat mendukung ke arah perubahan.
  5. Belajar dan terus belajar, jangan pernah bosan untuk belajar, kepada siapapun. Semua yang ada di sekitar kita adalah sumber ilmu pengetahuan hidup yang tak akan pernah habis. Pada akhirnya kita akan menemukan dimana passion kita. Pada saat itulah kita akan menemukan bahwa dinamika kehidupan adalah sebuah irama hidup yang terus akan berdenyut dan berdenyut.

Apapun perubahan yang terjadi, apapun dinamika yang kita hadapi, jika kita sendiri lentur maka tak akan mudah tergerus oleh setiap pergolakan hidup yang begitu dinamis. Selamat menapak satu tahap kehidupan lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here