SMA N 4 Semarang Gelar Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Sistem Penilaian Sekolah Model

0
18
Kepala SMAN 4 Semarang, Dra. Wiji Eny Ngudi Rahayu,M.Pd saat memberikan sambutan Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Sistem Penilaian Sekolah Model Foto : M. Taufik

Semarang,SMI.- Penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. Penilaian Berbasis Kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar  peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian  dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan (standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator pencapaian hasil belajar ).

Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tenatang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa, maksudnya adalah hasil penilaian berbasis kelas dapat menggambarkan kompetensi, ketrampilan dan kemajuan siswa selama di kelas.

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan serta meningkatkan kinerja guru untuk lebih profesional, SMA Negeri 4 Semarang menggelar workshop dengan tagline Peningkatan Mutu Sekolah Sistem Penilaian Sekolah Model Tahun Pelajaran 2019/2020 di Aula Sekolah jalan Karangrejo raya No 12A, kel. Srondol Wetan, Kec. Banyumanik, Kota Semarang (31/10/2019).

Workshop diikuti sejumlah 66 guru yang diadakan selama satu hari dengan materi Sistem Penilaian Berbasis Kelas dan Penulisan soal sesuai K13.

Dr .H. Mulyadi,HP,M.Pd saat memberikan penjelasan kepadqa para peserta Foto : M. Taufik

Kepala SMA Negeri 4 Semarang,Dra. Wiji Eny Ngudi Rahayu,M.Pd, menuturkan bahwa  seluruh bapak ibu guru kami harapkan bersama untuk mengikuti dengan sebaik baiknya sehingga nantinyanselesai kegiatan inni bisa menerapkannya kepada putra putrinya , karena kita sifatnya melayani putra putri kita,” ujarnya

Menurutnya sampai dimanakah kita menilai pada anak didik kita yang benar dalam hal ini yang standar, lanjutnya bagaimana kita menilainya, karena anak didik kita mempunyai kemampuan yang berbeda , baik kemampuan social maupun kemampuan intelektual,”paparnya.

Eny  berpesan bahwa kita sebagai guru dituntut untuk bisa memberikan penilaian yang sebaik baiknya, seadil adilnya kepada siswa siswi kita untuk dapat dipertanggung jawabkan,” pesannya

“Marilah kita ikuti workshop ini dengan sebaik baiknya  karena ada 4 standar ( standar isi, skl, standar proses dan standar penilaian) untuk sekasrang ini nantinyayang akan dibahas dan kita dapat dalam pembahasan standar penilaian,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama Dr.H. Mulyadi. HP, M,Pd, menjelaskan perbedaan kurikulum  13 dengan kurikulum sbelumnya bahwa setiap perubahan kurikulum ,sebenarnya yang berubah bagi guru itu ada 3, yang pertama cara membuat perencanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan. Jadi setiap perubahan kurikulum RPP itu selalu berubah kemudian yang kedua guru mengajarnya harus berubah srta yang ketiga setiap perubahan kuruikulum itu langkah langjah dalam evaluasinya,” jelasnya.

“Indonesia sejak merdeka sampai dengan sekarang ini sudah ganti kurikulum 11 kali,sehingga masyarakat mengatakan, setiap ganti Menteri ganti kuruikulum, sebetulnya itu salah, tetapi sejak Indonesiamerdeka sampai sekarang sudah ganti Menteri Pendidikan 20 kali , mestinya kurikulum sudah ganti 20 kali,” papar Mulyadi.

Dulu  tujuan pendidikan letaknya di GBHN, Indonesia menggunakan GBHN pertama kali tahun 1969, tujuan pendidikan nasional tujuannya supaya peserta didik mempunyai jiwa dan semangat patriotisme, maka Kementerian Pendidikan membuat draff menyusun kurikulum berbasis patriotisme, akhirnya finalnya Kurikulum 75 dengan munculnya pelajaran baeru yaityu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB),” imbuh Mulyadi.

Usai menjelaskan pertanyaan dari salah satu peserta workshop sebagai awalan kemudian dilanjut dengan penyampaian materi  Sistem Penilaiaqn Berbasis Kelas, dimana Haryadi menitik beratkan 3 kata kunci pada pedoman penilaian yaitu yang pertama Measurement : mengukur proses mendapatkan skor, skor didapat langsung dari instrument. Pedoman penskoran memuat 3 hal 1. Skala skor berapa ? ( 1,2,3,4 dstnya ) 2. Menentukan rubrik ( berdasar skala skor) yang ke 3 Menentukan skor maksimal dan minimal. Untuk mengamati, gunakan jurnal pengamatan, lalu direkap( rekap penskoran)m masing masing peserta,” tuturnya.

Lanjut Mulyadi yang kedua Assassement yaitu mengubah skor menjadi nilai. Dalam hal ini di operlukan pedoman penilaian : 1. Menggunakan skala nilai berapa (0 – 100) berdasarkan permen No 23 tahun 2016 kemudian ke 2 Tahu skor perolehan dan skor maksimumyang ke 3 menggunaklan rumus konversi nilai = skor doperoleh/skor maksimal x skala tertinggi,” ungkapnya.

Mulayadi menambahkan, utnuk yang ke tiga Evaluation yaitu mengubah nilai menjadi predikat. Sedangkan predikat dibagi menjadi( huruf: ABCD) dan kuantitatif (angka) Kalau untuk sikap, pakai predikat huruf saja ABC,D imbuhnya, kalau pengetahuan, predikatnya gunakan pembulatan  misalnya nilai  78,7 menjadi 79 ,” pungkasnya.

Pewarta : M. Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here