Satgas TPPU Narkotika BNNP Jateng Sita Uang ‘Jaringan Sancai’ Senilai Rp.4,8 M

0
21
Kepala BNNP Jateng, Brigjen. Pol. Muhammad Nur (tengah ) menunjukkan barang bukti jaringan Sancai saat gelar perkara di kantor BNNP Jateng. Senin (4/2/2019) Foto : M. Taufik

Semarang, SMI.-

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng kembali menunjukkan prestasinya dalam penanganan narkotika. Satgas TPPU narkotika BNNP Jateng telah melakukan penangkapan terhadap seseorang yang diduga kuat sebagai pelaku Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) narkotika, bernama Deden Wahyudi alias Dandi Kosasih alias Raditya di kantor BRI unit Lempuyangan Jln. Dr. Sutomo No. 60  Baciro, Gundokusuman Yogyakarta, Rabu (23/1/19) sekitar pukul 11.30 WIB.

Tersangka diamankan saat transaksi diperbankan, selanjutnya petugas melakukan penggeledahan di rumah kost No. 19 RT.31 RW. 9 Kelurahan Bausasran Kec. Danurejan Yogyakarta. Dalam penggeledahan satgas TPPU narkotika BNNP Jateng berhasil menyita uang tunai sebanyak Rp. 1.553.000.000 dan pecahan SGD 53.000 (kurs 10.400), senilai Rp. 553.280.000, total uang tunai Rp. 2.106.280.000.

Satgas TPPU narkotika bergerak cepat berkoordinasi dengan Direktorat TPPU BNNP Jateng melakukan pemblokiran rekening bank  BCA, BNI, BRI dan Mandiri yang didalamnya semuanya berjumlah total Rp. 2.705.754.003. Asset yang tersita dari pengungkapan kasus tersebut Rp. 4.812.034.003.

Deden merupakan pelaku TPPU narkotika kelompok Banjarmasin, yang merupakan jaringan sindikat besar Christian Jaya Kusuma alias Sancai. Sancai sekarang menghuni lapas batu Nusakambangan yang sudah di vonis 24 tahun penjara.

Sementara itu, Kepala BNNP Jateng Brigjen. Pol. Muhammad Nur mengatakan bahwa, pengungkapan kasus TPPU narkotika ini jaringan Christian Jaya Kusuma alias sancai yang sekarang mendekam di lapas Batu Nusakambangan, “Sancai sudah kami ungkap terlebih dahulu” Tegasnya.

Muh. Nur mengungkapkan, pelaku dalam melakukan aksinya menggunakan modus baru, yaitu menggunakan E- KTP dan KK palsu dalam membuka rekening, bahkan menggunakan nama berbeda – beda sehingga sulit dilacak. ** M. Taufik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here