Rumah Sakit Tanpa Dinding Peranannya Lebih Banyak Dimainkan Puskemas

0
29
Dari kiri : Dekan FKM Undip Semarang, Dr. Budiyono, Ketua Komisi E DPRD Prov. Jateng Abdul Hamid, Kepala Dinas kesehatan Prov. Jateng dr. Yulianto Prabowo. Foto : M. Taufik

Semarang,SMI.- Lebih dari 35 juta penduduk Jawa Tengah yang tersebar di lebih dari 8.500 desa / kelurahan memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Pemerintah Provinsi Jawa tengah berkewajiban untuk memenuhi hak kesehatan warganya tersebut, termasuk akses ke fasilitas  dan tenaga kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil.

Munculnya Rumah Sakit Tanpa Dinding selayaknya segera direalisasikan. Konsep Rumah Sakit Tanpa Dinding sejatinya adalah upaya proaktif, memberikan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mengedepankan peran rumah sakit untuk mencegah penyebaran penyakit, bukan hanya sekedar mengobati orang sakit saja.

Rumah Sakit Tanpa Dinding sejatinya lebih banyak dimainkan peranannya oleh Puskesmas, hanya saja karena keterbatasan tenaga kesehatan, menjadikan pelayanan kesehatan belum banyak  dirasakan masyarakat. Rumah Sakit Tanpa Dinding  mengandung makna kiasan dengan maksud bahwa tidak ada tidak ada sekat sekat dalam melakukan upaya kesehatan yang bersifat promotif, preventif yaitu mencegah jangan sampai masyarakat sakit.

Gagasan kebijakan ini adalah dibutuhkannya fasilitas kesehatan termasuk transportasi untuk petugas, tim kesehatan. Anggaran untuk melaksanakan kebijakan tersebut, Rumah Sakit Tanpa Dinding di harapkan mampu mndorong tingkat hidup, harapan masyarakat di jawa tengah agar lebih lama termasuk mengurangi tingkat kematian pada ibu dan anak.

Para wartawan dari berbagai media sedang meliput acara tersebut. Foto : M. Taufik

Kepala Dinas Kesehatah Provinsi Jawa tengah, dr. Yuilianto Prabowo mengatakan bahwa Rumah Sakit Tanpa Dinding (RSTD) tercantum dalam program prioritas visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo – Taj Yasin. Pada prinsipnya kesehatan harus kita selesaikan secara holistic, komprehensip.

“Jadi mulai dari pencegahan dan peningkatan kesehatan. Kita tidak bisa membangun kesehatan masyarakat hanya mengobati orang sakit saja, itu tidak bisa. Kita harus meningkatkan kesehatannya, visinya kita tingkatkan pengetahuannya lalu upaya upaya pencegahan imunisasi, memutus mata rantai penyakit menular dan sebagainya,” Ucapnya.

Menurutnya masalah kesehatan di Indonesia kalau tidak memperkuat promotif, preventif maka masalah kesehatan emakin banyak. “Rumah Sakit sebagai institusi kesehatan yang padat SDM nya segala keahlian ada disitu, lalu padat teknologi, semua teknologi ada di situ, padat sarana dan prasarana, pembiayaan. Paradigmanya di balik kalau selama ini plan keshatan itu berbasis Hospital base (berbasis rumah sakit) sekarang kita balik menjadi Community Base, jadi jangan sampai masyarakat yang datang  ke rumah sakit bila memerlukan, tapi rumah sakitnya juga datang ke komunitas dalam rangka mencegah,” ujarnya Yulianto.

“Pengertian Rumah Sakit Tanpa Dinding sendiri ini terdiri dari beberapa dimensi : yang pertama dimensi pelayanan ( tidak hanya mengobati tapi mencegah), dimensi kedua Sistem pelayanan ,kalau sekarang ini terkotak kotak ( primer,sekunder, tersier), rumah sakit juga membina fasilitas kesehatan termasuk [uskesmas yang ketiga dimensi teknologi ( penggunaan tele medicine) yang ke empat dimensi system antrean ,kita potong ( pendaftaran dengan memakai alat teknologi ) sehingga datang ke rumah sakit saat mau di periksa saja . lalu yang kelima Konsultasi menggunakan teknologi  misal, di lab pemeriksaan rontgen tetapi dari radiologi tidak ada ( cukup kirim fotonya) oleh karena itu kolaborasi antar profesi harus kita bangun jadi dinding antar rumah sakit atau dinding rumah sakit dengan masyarakat harus kita bongkar supaya tidak ada sekat,” tutur Yulianto.

“Tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang meningkat dengan di tandai menurunnya angka kesakitan dan angka kematian serta membangun visi masyarakat lebih baik lagi,” pungkasnya, Saat menjadi nara sumber dalam prime topic dialog bersama parlemen Jawa Tengah dengan tema “ Rumah Sakit Tanpa Dinding” yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di ruang Bahana Hotel Noormans jalan Teuku Umar No 27,Jatingaleh Karangrejo, Kec. Gajahmungkur, Kota Semarang, kamis (13/2/2020).

Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Prov Jateng, Abdul Hamid, menuturkan Rumah sakit Tanpa Dinding ini merupakan program prioritas Gubernur Jateng dan DPRD mendukung saja, Di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerha (RPJMD) di 2018-2023 tinggal mendetailkan saja. “Langkah langkah yang bisa dilakukan oleh pemprov Jateng dalam hal ini Dinas Kesehatan, untuk hal yang bisa kita ukur misalnya bagaimana kemajuan layanan kesehatan dari sebelumnya dengan yang di konsep RSTD ini .  Ini merupakan upaya pengobatan lebih ke pencegahan. Kami antusias karena terbukti sebagai partnership dari komisi E kami selalu turun bersama,” ungkapnya.

Hamid berharap melalui balai kesehatan masyarakat yang dipunyai dinas kesehatan yaitu melakukan pennyuluhan, deteksi dini untuk penyakit menular maupun tidak di masyarakat, dan kami rekam disebuah daerah  sehingga kami tahu betul bagaimana pencegahan, sosialisasi para tenaga medis yang ada di dinas kesehatan dib alai kesehatan masyarakat untuk untuk terjun ke masyarakat mulai dari gizi, tinggi dan berat badan yang idal. Jadi bagaimana menjaga kesehatan masyarakat secara aktif.

“Pemerintah Pusat serius mengatasi terhadap layanan kesehatan. Di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk standar pelayanan minimal tenaga kesehatan di puskesmas itu 100 persen capaiannya. Disinilah pemerintah pusat sangat memperhatikan pelayanan masyarakat. Harapannya Rumah Sakit Tanpa Dinding (RSTD) provinsi bersinergi dengan pemerintah pusat dan juga berkolaborasi supply sarana prasarana sehingga nantinya pun bisa dis elesaikan secara bersama sama,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FKM Undip Semarang, Dr.Budiyono memaparkan bahwa Rumah Sakit Tanpa Dinding itu bukan menggantikan upaya kesehatan masyarakat yang selama ini sudah ada. Upaya kesehatan sendiri kita bagi 2, yang pertama upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.  Jadi upaya kesehatan masyarakat seperti posyandu, forum kesehatan desa serta kader kader kesehatan,” paparnya.

Menurutnya Puskesmas kita perkuat, rumah sakit ingin memperkuat, membantu upaya upaya yang sudah ada ini dalam berbagai bentuk tadi, missal transfer knowledge terhadap teman teman yang ada di lapangan, fasilitasi, meberikan kreatifitas dan inovasi bagi rumah sakit untuk membuat kegiatan kegiatan.

“Implementasi rumah sakit tanpa dinding ini tidak mesti di ukur dengan anggaran tetapi kebijakan, komitmen, perubahan paradigm managemen itu juga bisa ada penguatan terhadap Rumah Sakit Tanpa Dinding tersebut,” pungkasnya.

 

Pewarta : M.Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here