Pribadi Stabil menjadi Kunci Sukses Kinerja Organisasi

0
11
Ditulis oleh: Mudiyono, NIP 197207161994031002

Hidup adalah suatu perjalanan. Kenyataan hari ini merupakan impian masa lalu. Hidup adalah perjalanan diri berdasarkan peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan penuh kesadaran. Kita pasti mempunyai rencana untuk dapat membersamai anak-anak yang sedang libur panjang pada akhir tahun pelajaran, bukan? Baru saja bulan ini juga kita sama-sama menikmati libur panjang sebagai perayaan Idul Fitri 1440 Hijriyah. Memory Idul Fitri bersama keluarga besar masih lekat dalam hati dan ingatan kita. Terutama bagi yang dalam rentang kurun waktu setahun tidak bersua dengan orang tua dan sanak famili tercinta di kampung halaman.

Momentum mudik lebaran merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan sakral penuh cerita suka cita. Nuansa suka cita bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung menjadi obat rindu yang lama tidak bertemu. Terbayar sudah rasa penat dan letihnya perjalanan mudik setelah berjumpa ayah, bunda, adik, kakak, dan saudara semuanya.

Namun di sisi lain terdapat juga cerita dukanya. Sebagian masyarakat yang harus mudik untuk berlebaran di kampung halaman terpaksa batal karena tingginya beban transportasi yang terasa berat. Mereka rela untuk tidak berlebaran bersama keluarga besar di kampung halaman yang didamba. Inilah sekelumit cerita tentang liburan di momen Idul Fitri yang baru kita lewati tiga pekan yang lalu. Intinya kita semua punya perencanaan dan cita-cita yang akhirnya terjuwud dengan tindakan untuk mencapai tujuan masing-masing.

Setiap orang berusaha memiliki kepribadian yang stabil. Untuk mengetahui pengertian kepribadian stabil berikut dikutip narasi ilmiah  Ustadz Ismail Rafandi : Kepribadian terbentuk oleh beberapa elemen dasar, yakni ar-ruh (jiwa), an-nafs (ego/psikofisik), dan al-‘aql (akal)-baik positif maupun negatif. Manakala terjadi gangguan (disfungsi) di salah satu dari tiga elemen dasar tersebut akan menyebabkan lemahnya satu sisi atau beberapa sisi kepribadian manusia. (Ahmad Salim Badawilan: Membangkitkan Energi Diri [Self-Power]; 2010:17)

Kepribadian stabil adalah kepribadian positif yang diterima oleh Allah dan juga manusia. Karenanya, orang Islam yang menyadari hal tersebut haruslah menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mendukung kepribadian stabil dan meninggalkan sifat-sifat sebaliknya.

Adapun karakteristik kepribadian stabil mencakup banyak faktor, yaitu:

pertama, mampu mengendalikan emosi. Salah satu tolok ukur kepribadian yang stabil adalah kematangan emosi. Ketidakmampuan mengendalikan emosi, terutama emosi negatif seperti marah, dapat menghambat interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Kedua, mampu memupuk kepercayaan diri. Kepercayaan diri menentukan hidup seseorang. Dan ini merupakan salah satu tolok ukur kepribadian. Seseorang dengan kepercayaan diri yang tinggi akan mampu mengarungi bahtera kehidupannya secara baik. Minimal, dia dapat menerima tantangan dan mengemban tanggung jawabnya tanpa dikuasai stres dan kecemasan. Dalam pergaulan, ia tidak agresif tapi juga tidak pasif. Sehingga, seseorang yang mampu memosisikan dirinya di antara kedua sifat dimaksud akan relatif mudah diterima di lingkungan di mana pun berada.

Ketiga, mampu bersosialisasi dan beradaptasi. Kita tidak menafikkan bahwasannya kemampuan seseorang bersosialisasi menjadi sebab seberapa jauh dia akan meniti kesuksesannya sangat ditentukan oleh banyaknya relasi yang sudah dirajut. Kualitas dan kuantitas teman sejawat  akan membuat seseorang tidak gampang stres. Dengan banyak kawan, ia akan lebih leluasa memutuskan kepada siapa akan mencurahkan isi hatinya. Tentu sesuai koridor dan etika yang berlaku dan menjaga sopan santun yang diyakini.

Keempat, mampu mengatasi masalah/konflik. Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya kehidupan manusia dengan berbagai latar belakang, budaya, politik, pendidikan, suku dan ras, agama, dan aneka warna pemahaman yang sangat kompleks tidak dapat dipungkiri akan menimbulkan konflik. Oleh karenanya, kemampuan memecahkan konflik merupakan modal yang harus dimiliki seseorang. Semakin baik dalam mengelolanya, maka kepribadiannya akan semakin stabil. Pribadi yang lihai mengatasi konflik umumnya akan mudah mencari solusi sesulit apapun masalah yang dihadapi dalam hidupnya, baik di sekolah, di rumah tangga, maupun di lingkungan tempat kerja.

Kelima, mampu bersikap fleksibel. Barang siapa yang berkepribadian stabil maka tidak boleh memiliki sifat kaku. Jikalau ada rencana yang gagal, ia harus mampu mengatisipasinya dengan berbagai rencana lain. Sikap kaku hanya akan meningkatkan kecemasan dalam diri. Sebaliknya, sikap fleksibel sangat berfaedah bagi seseorang agar :

  1. mampu berbuat dan merencanakan sesuatu secara tepat dan bijak;
  2. mampu mengukur suatu keberhasilan secara nyata;
  3. mampu berinteraksi dalam segala kondisi dan warna kepribadian manusia;
  4. mampu mengubah setiap hal menjadi lebih positif;
  5. mampu menghadapi goncangan dan persoalan yang data secara tiba-tiba;
  6. mempunyai strategi dan manajemen yang rapih dalam bekerja;
  7. menguasai beragam media, metode, dan gaya dalam berinteraksi.

Dalam organisasi tidak jauh berbeda, laksana pembuatan peta sukses dalam rentang waktu tertentu untuk meraih tujuan dan impian. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, mengarahkan, dan mengontrol setiap aktivitas baik secara individu maupun kelompok. Suatu proses kinerja, apabila telah selesai dilaksanakan, akan memberikan hasil kinerja atau prestasi kerja. Suatu proses kinerja dapat dikatakan selesai jika telah mencapai suatu target tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Atau dapat pula dinyatakan selesai berdasarkan pada suatu batasan waktu tertentu, misalnya pada akhir triwulan, semesteran atau tahunan.

Monitoring dan evaluasi kinerja dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hasil kinerja atau prestasi kerja yang diperoleh secara individu maupun kelompok untuk tujuan organisasi. Monitoring dan evaluasi kinerja akan memberikan umpan balik terhadap tujuan dan sasaran kinerja, perencanaan serta proses pelaksanaan kinerja. Monitoring dan evaluasi kinerja dapat pula dilakukan terhadap proses penilaian, review dan pengukuran kinerja. Atas dasar evaluasi kinerja dapat dilakukan langkah-langkah untuk melakukan perbaikan kinerja di waktu yang akan datang.

 

Pengelolaan Kinerja Lingkup Ditjen Perbendaharaan

Peran Pengelola Kinerja Organisasi dan Atasan Langsung Pegawai dalam Penatausahaan dan Pencapaian Kinerja Individu maupun Kinerja Organisasi sangat penting. Pengelola Kinerja mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengelolaan  kinerja organisasi pada lingkungan unit organisasi, mencakup: Penyusunan  Kontrak  Kinerja; Reviu Kontrak  Kinerja; Monitoring dan  Evaluasi Terhadap  Capaian Kinerja  Organisasi; Koordinasi  Perhitungan  Capaian Kinerja Pegawai (CKP); Sosialisasi/Diseminasi  Pengelolaan  Kinerja, Koordinasi penilaian  perilaku; Koordinasi  Perhitungan Nilai Sasaran Kerja Pegawai (NSKP), Mengelola Nilai Kinerja Pegawai (NKP) dan  Nilai Perilaku dan Kinerja Pegawai (NPKP), dan Menyusun Keputusan  Pimpinan Unit tentang  NKP.

Sedangkan Atasan Langsung mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan  supervisi terhadap pegawai dalam lingkup binaannya, mencakup: Mereviu kualitas IKU, manual IKU, matriks cascading, laporan dan  data pendukung CKP bawahan; Menilai perilaku, tugas tambahan dan kreativitas bawahan; Memonitor dan mengevaluasi CKP; Memberikan bimbingan dan konsultasi kepada bawahan; Menindaklanjuti keberatan atas hasill penilaian CKP dan NPKP  bawahan.

Evaluasi Internal Kualitas Pengelolaan Kinerja

Sebagaimana amanat Menteri Keuangan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 467/KMK.01/2014 tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan, bahwa seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan perlu mendorong peningkatan implementasi pengelolaan kinerja di unit masing-masing secara berkelanjutan.

Tujuan Evaluasi Kualitas Pengelolaan Kinerja:

  1. Untuk mendorong komitmen pimpinan unit dan seluruh pegawai terhadap peningkatan kualitas pengelolaan kinerja.
  2. Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi peningkatan kualitas pengelolaan kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

 

Berdasarkan hasil Reviu Pengelolaan Kinerja Ditjen Perebendaharaan Tahun 2018, Biro Perencanaan Keuangan Setjen Kementerian Keuangan  menyampaikan rekomendasi  perbaikan sebagai berikut:

  1. Terkait penyusunan Renstra, beberapa saran perbaikan yang perlu dilakukan:
  1. Melakukan reviu/evaluasi atas renstra setiap tahun.
  2. Mengacu pada renstra eselon I dan pedoman penyusunan renstra kemenkeu atau unit eselon I terkait.
  3. Proses dilakukan dengan melibatkan seluruh unit teknis.
    1. Terkait penyusunan Rencana Kerja (RKAKL), beberapa saran perbaikan yang perlu dilakukan:
  4. Untuk mewujudkan komitmen, koordinasi, dan rasa memiliki (sense of ownership), maka penyusunan Renja/RKAKL agar dilaksanakan melalui pembahasan yang dihadiri oleh seluruh unit teknis dan dipimpin oleh pimpinan unit.
  5. Pelaksanaan pembahasan agar didokumentasikan dengan baik melalui undangan, daftar hadir, dan notulen.
  6. Dalam pembahasan rencana kerja/RKAKL sekurang-kurangnya terdapat:
    • Pembahasan spesifik untuk pelayanan ke publik.
    • Pembahasan terkait kebutuhan resource dan anggaran untuk pemenuhan operasional kantor.
    • Pembahasan anggaran yang akan diusulkan/digunakan melihat tahun anggaran sebelumnya dan mengikuti kebutuhan anggaran tahun berikutnya (berdasarkan incramental/akres).
  1. Terkait Kontrak Kinerja, beberapa saran perbaikan yang perlu dilakukan:
  1. IKU yang masih berupa activity pada pemilik peta, dapat ditingkatkan kualitasnya dengan mengukur output ataupun kualitas dari suatu kegiatan.
  2. Target beberapa IKU yang realisasinya sudah jauh melampaui target pada tahun ini agar ditingkatkan, untuk mendorong peningkatan kinerja organisasi.
  3. Pemilihan zinisiatif Strategis (IS) yang relevan dengan Sasaran Strategis (SS) dan Indikator Kinerj Utama (IKU) serta bukan kegiatan rutin, periode waktu yang spesifik dan output yang konkret.
  4. Perlu meminimalisir adanya IKU tanggung renteng, khususnya di level pelaksana.
    1. Terkait Monitoring dan Evaluasi, beberapa saran perbaikan yang perlu dilakukan:
  5. Keterlibatan pimpinan dalam Dialog Kinerja Organisasi (DKO) secara rutin (bulanan/triwulanan) perlu tetap ditingkatkan.
  6. Dalam DKO juga perlu adanya pembahasan terkait dengan manajemen risiko, serta dituangkan dalam notula rapat secara konsisten.
  7. Perlu adanya penajaman dalam pengisian format Laporan Capaian Kinerja (LCK) yang memuat isu utama dan implikasi, akar masalah, tindakan yang telah dilaksanakan, serta rekomendasi rencana aksi.
  8. Format Laporan Capaian IKU versi IIAA tidak hanya untuk laporan pemilik peta strategi, namun juga pada laporan capaian IKU pejabat satu level di bawah pemilik strategi.
  9. Dalam DKO tidak hanya membahas capaian IKU pemilik peta strategi, namun juga membahas laporan capaian IKU pejabat satu level di bawah pemilik peta strategi.
    1. Terkait perbaikan berkelanjutan, beberapa saran perbaikan yang perlu dilakukan:
  10. Upaya perbaikan sistem pengelolaan kinerja perlu terus dilakukan melalui:
    • Peningkatan kapasitas pengelolaan kinerja.
    • Review Pengelolaan Kinerja secara berjenjang.
    • Inovasi dalam pelaksanaan pekerjaan.
  11. Perlu ditingkatkan perluasan upaya sosialisasi pengelolaan kinerja dengan menggunakan berbagai media agar dapat meningkatkan kualitas pengelolaan kinerja.
  12. Pelaksanaan Review Pengelolaan Kinerja perlu ditingkatkan kualitasnya, salah satunya dengan mengadopsi metode yang dilakukan di level Kementerian maupun unit eselon I DJPb.

 

Prinsip Evaluasi Penghitungan Kualitas Kontrak Kinerja (K3)

Objektif, Penilaian kinerja berdasarkan K3 dilakukan berdasarkan kriteria yang objektif  dengan meminimalkan  judgement yang bersifat subjektif. Diamanahkan kepada Pejabat/Pegawai Pengelola Kinerja Organisasi sebagai Personal In Carge (PIC) dalam penyelesaian input dalam aplikasi e-performance.

Adil, Penilaian kinerja berdasarkan K3 dilakukan untuk memberikan penilaian yang lebih mendiferensiasi kinerja antar pegawai. Sedapat mungkin setiap pegawai pelaksana diminimalisir dari IKU tanggung renteng agar kualitas K3 tinggi.

Andal, Penilaian kinerja berdasarkan K3 dilakukan menggunakan data yang dapat dipercaya. Raw data sebagai sumber data yang valid dan kredibel telah direview dan diverifikasi oleh pegawai maupun atasan langsungnya sebelum di-approval oleh Pengelola kinerja organisasi.

Berdasarkan SE-13/MK.1/2019 tentang Pelaksanaan Penilaian Kinerja Semester I Tahun 2019 dan Pelaporan Dialog Kinerja Individu Periode II Tahun 2019 di Lingkungan Kementerian Keuangan, diamanatkan kepada Pengelola Kinerja Organisasi melakukan review Penilaian K3 dan Review Kontrak Kinerja (KK) dan K3 pada bulan Juni s.d Desember 2019. Hal ini merupakan kemajuan sebagai antisipasi untuk memastikan kualitas pengelolaan kinerja individu maupun kinerja organisasi senantiasa menjadi perhatian serius. Memastikan validitas KK masing-masing pegawai dalam unit kerjanya agar tidak terjadi kesalahan yang mangakibatkan kerugian pegawai maupun beban Negara yang tidak proporsional dan tidak bertanggung jawab. Pencapaian target IKU dan K3 sangat diperhatikan oleh jajaran pimpinan di Kementerian Keuangan sebagai salah satu tolok ukur pemberian reward berbentuk financial yang sangat diharapkan oleh seluruh pegawai.

 

Daftar Pustaka:

  1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 467/KMK.01/2014 tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan;
  2. Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-241/PB/2015 tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Direktorat jenderal Perbendahaaan;
  3. Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Subbagian Umum KPPN;
  4. Materi Rakor Pengelolaan Kinera Ditjen Perbendaharaan Tahun 2019;
  5. Membangkitkan Energi Diri [Self-Power], Ahmad Salim Badawilan;
  6. Quantum Life Transformation, Adi Gunawan;
  7. 151 Gagasan Luar Biasa, Robert E. Dittmer dan Stephanie M. McFarland;
  8. Ada Allah Masalah Tiada, Ferudun Ozdemir;
  9. Change Management dalam Reformasi Birokrasi, A. Qodri Azizy
  10. Ispirasi dari Langit Ketujuh, Mahmud asy-Syafrowi
  11. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, Ary Ginanjar Agustian
  12. Rahasia Magnet Rezeki, Nasrullah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here