Petani Tulang Punggung Ketahanan Pangan

0
29

SEMARANG, SMI.-

Peningkatan produksi pangan secara signifikan menjadi cita-cita setiap bangsa sekaligus kebanggaan bagi pagi para petaninya. Kejayaan sektor pertanian dimasa masa lalu terus menjadi spirit Pemerintah dan juga Petani untuk meraih kembali prestasi swasembada beras. Jawa tengah yang surplus beras pada semester satu, harus mampu mempertahankan prestasinya sekaligus menjadi contoh bagi Provinsi dan daerah lain.

Suatu hal yang menjadi perhatian adalah menanam padi, dan memanagement pengairan dari sumber sumber irigasi yang ada harus tepat. Sehingga hasil panen petani di Jawa tengah semakin optimal. Siklus tanaman padi dan palawija untuk memutus rantai hama pengganggu tanaman senantiasa ditaati oleh semua Petani. Sesuai arahan dari penyuluh dan dinas terkait demikian pula alokasi air irigasi dari waduk, embung dan juga sumur lain harus dimanage dengan benar dan tepat.

Jika pola dan management pertanian sudah berjalan dengan tepat dan berkesinambungan, para pertani akan merasakan hasilnya. Sebagai gambaran nilai tukar petani Jateng pada bulan agustus 2018 sebesar 102,50 atau naik 1,20 persen dibanding dengan NTP bulan sebelumnya sebesar 101,29 persen, kenaikan NKP karena indeks harga yang diterima petani 1,06 persen, sedang indeks harga yang dibayar petani turun 0,14 persen sudah saatnya petani hidup makmur dan semestinya, semua pihak harus mampu memuliakan petani karena menjadi tulang punggung ketahanan pangan di negeri ini.

Akhsin makruf, selaku legislator F PAN sekaligus anggota komisi B DPRD Jateng menuturkan, untuk memuliakan petani di Jateng khususnya menyangkut kesejahteraannya ada 3 isu krusial yang dihadapi petani. Yang pertama mengenai lahan, kedua pengolahan lahan dan yang ketiga pasca panen.

“Berkaitan dengan lahan paling dominan dikuasai oleh Negara/ BUMN seperti Perhutani, PTP baru ke masyarakat, setelah masyarakat kelompok kapital menguasai lahan milik masyarakat dalam arti orang perkotaan yang memiliki modal besar yang menguasai tanah baik diperkotaan maupun pedesaan. Inilah problem petani yang perlu kita perjuangkan supaya sejahtera,’ tuturnya dalam dialog bersama Parlemen Jawa Tengah dengan tema Memuliakan Petani yang disiarkan langsung oleh radio MNC Trijaya FM di ruang bahana Hotel Noormans Jln. Teuku Umar no 27 Semarang, senin 25/9.

Akhsin menuturkan pada saat kunjungan ke Bandungan wilayah sekitar gedong songo, Lahan yang digarap oleh para petani ternyata bukan milik petani asli daerah situ, tetapi sudah mulai bergeser ke masyarakat yang memiliki uang banyak, petani hanya sebagai penggarap  lahan saja. Mengenai tata ruang sudah mulai terdesak dengan adanya bangunan bangunan,  perumahan, serta sektor industri.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Mutu Hasil Pertanian dan Perkebunan Jateng, Ir. Heru Tamtomo, menegaskan, “ Untuk persediaan beras dan produksi kita dari tahun ke tahun terus meningkat.melalui lahan kita mengejar produksi melalui indeks pertanaman, artinya dengan perbaikan sqaluran irigasi  dulunya bisa tanam padi satu kali, sekarang bisa dua kali, ada yang dulunya kekeringan sekarang aman”.

Dengan peningkatan intensifikasi untuk penggunaan benih yang bagus, cara budidaya yang lebih baik, untuk menutupi kurangnya hasil karena alih fungsi lahan. Akhirnya selama 2 tahun ini produksi kita naik terus meskipun ada jalan tol, industri, ada perumahan. Kalau hasil panen dikonsumsi masyarakat Jateng lebih dari cukup, beras sampai dengan subround 1 artinya sampai dengan bulan juni 2018 di prediksi naik. Menurut Heru, beras yang kita produksi semata mata tidak kita makan sendiri, kita distribusikan ke tempat lain, pastinya ke cipinang itu hampir setiap hari, belum yang antar pulau.

Sementara itu, Prof. Dr.Ir. Sony Heru Prianto selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menyatakan,”  Dalam peningkatan produksi pada sector pertanian kita masih menggunakan paradigma klasik, masih seperti yang dulu yaitu peningkatan produksi, mestinya kita sudah pada paradigma investasi. kalau pasar dipandang sebagai investasi  maka sudah tidak ada lagi alih lahan.. Sudah saatnya kita tangani soal peningkatan produksi pertanian semakin melimpah dan semua pihak diharapkan dalam waktu yang tidak lama dapat mensejahterakan serta memuliakan petani. **M. Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here