Pesona Curug Lawe Wisata Air Terjun Tengah Hutan Perawan yang Makin Memikat

0
19

Gunung Ungaran di kabupaten Semarang Jawa Tengah, menyimpan berjuta pesona keindahan yang tak begitu nampak dari luar. Wisata  alam dengan keindahan yang sangat memikat, menarik hati para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Selain curug Semirang, ada lagi Curug Lawe yang ada di wilayah Kalisidi Ungaran Barat. Dinamakan Curug Lawe karena lambaian air yang jatuh dari ketinggian ratusan meter dan berbentuk seperti untaian benang putih.

Sedangkan menurut informasi seorang penduduk lokal, Curug Lawe berasal dari 25 sumber aliran air di atasnya yang menyatu dalam kesatuan air terjun sehingga dipakai istilah Lawe dari kata selawe yang artinya 25 dalam bahasa Jawa.

Pagi itu, puluhan mobil nampak terparkir diantara pohon cengkih zanzibar. Kendaraan roda dua juga banyak yang terparkir di berbagai tempat  di sepanjang jalan. Beberapa orang berseragam kaos, nampak mengatur kendaraan yang terparkir.

Warung-warung penduduk lokal juga banyak berdiri di sepanjang pinggir jalan utama yang miring. Warung-warung ini menyediakan berbagai makanan kecil dan aneka minuman bagi para pengunjung dengan harga yang relatif terjangkau.

Setelah dicek suhu dan diberikan saran untuk  memarkirkan kendaraan,  maka akan terlihat sebuah gapura kecil dengan tulisan CLBK, saya baru tahu maksudnya setelah bertanya pada seorang penjaga. Ternyata tulisan itu adalah singkatan dari Curug Lawe Benowo Kalisidi. Bukan Cinta lama Bersemi Kembali ..wkwkwk

Saya dipersilahkan masuk oleh seorang penjaga setelah memperkenalkan diri bahwa saya dari Suara Metro Indonesia yang hendak melakukan liputan ke Curug Lawe.

Setelah memasuki gapura maka pengunjung akan mulai menikmati perjalanan yang lumayan seru dan cukup melelahkan. Sebenarnya jarak Curug Lawe dari tempat parkir tak terlalu jauh, tapi setiap orang akan merasakan jarak yang ditempuh sangat jauh karena mungkin belum hapal. Sehingga perjalanan dirasakan terasa lebih panjang.

Diawali dengan puluhan anak tangga yang menurun dengan kemiringan 180 derajat dan berakhir pada sebuah jalur pinggir saluran yang airnya sangat bening. Konon saluran air ini adalah hulu dari Kali Garang  yang melintas di kota Semarang dan berakhir di laut Utara.

Melewati jalur pertama ini, para pengunjung harus berhati-hati, sebab di sisi kanan saat berangkat, jalur ini berada di bawah tebing, dan di sisi kiri adalah jurang yang sangat dalam. Saat berpapasan dengan pengunjung lain, para pengunjung harus saling mengalah, dan menunggu dalam titik yang lokasinya lebih lebar. Sebab jalur di sepanjang saluran ini hanya muat untuk satu orang sehingga saat berpapasan salah satu harus mengalah menyaediakan jalan untuk orang lain.

Beberapa ratus meter akan dijumpai jembatan besi yang lumayan panjang. Kayu-kayu jati tua tampak sebagai alas berjalan. Para pengunjung bisa mengambil gambar di tengah jembatan, dengan tetap memperhatikan keselamatan, karena  risiko terjatuh lebih besar, terlebih jembatan ini tak ada pelindung yang berarti.

Di sisi kiri terlihat sungai dengan batu-batu besar yang menyembul. Dengan sumber air yang berasal dari Curug Lawe. Beberapa pengunjung tampak menikmati curug-curug kecil yang bertebaran di sepanjang sungai. Bahkan beberapa keluarga dengan anak balita mnikmati kesegaran air di sepanjang sungai ini.

Kami juga sempat mengabadikan beberapa gambar di sepanjang sungai ini. Menikmati basahnya kaki yang kesegarannya bisa menyebar sampai ke seluruh tubuh.

Sampai di ujung saluran air terdapat pintu bendungan, berada di bawah rimbunnya pohon-pohon hutan yang sangat besar.

Gemericik suara air diselingi suara burung dan binatang lain terdengar merdu seperti nyanyian alam yang merefleksi batin. Saya larut dalam keindahan semesta yang dipersembahkan oleh kesejukan hutan Curug Lawe.

Lalu dimulailah jalur tanjakan yang cukup sempit. Ada pegangan tangan untuk menaiki tangga yang cukup terjal. Beberapa pengunjung terlihat tersengal dengan suara nafas yang memburu, mereka  menghela nafas, berhenti sejenak dan memgumpulkan tenaga, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Ratusan pohon besar milik negara yang dikelola  Perum Perhutani KPH Kedu Utara ini nampak kokoh dan merangsang saya untuk mengabadikan gambar.

Beberapa menit kemudian terdengar suara nyaring orang ramai disela suara air yang jatuh dari ketinggian. Lalu di balik bukit yang terakhir terlihatlah pemandangan indah keelokan Curug yang menjadi tujuan kami.

Sumber air yang jatuh dari ketinggian ratusan meter menyihir para pengunjung yang memadati area tempat air jatuh. Mereka larut dalam hiruk pikuk kegembiraan yang tak terkatakan. Selain hilir mudik  mengambil foto, melepas alas kaki agar langsung menyentuh air, para pengunjung juga tidak segan terjun langsung ke dalam derasnya air terjun dengan pakaian lengkap.

Tua, muda, lelaki perempuan, bahkan anak-anak ikut terlarut, seakan terhipnotis keajaiban alam.

Saya pun melepas baju dan celana. Menggantinya dengan kolor yang sudah saya persiapkan dari ruma di balik sarung yang saya bawa. Sebab di Curug Lawe tidak disediakan tempat untuk berganti pakaian.

Saya masuk di bawah bawah air terjun, bercengkerama dengan kesejukan alam. Menikmati air yang turun dari atas, yang jatuh di kepala, badan dan tangan. Saya rasakan seperti pijatan alam yang secara stimultan merefleksi seluruh urat nadi, dari atas kepala sampai mata kaki.

Bahkan beberapa kali saya menyelam hingga menyentuh dasar. Dasar air terjun berupa pasir lembut yang bersih dan tak mudah keruh. Sesekali saat menyelam saya melihat butiran pasir yang mengembang sejenak, lalu tenggelam lagi menjadi endapan di dasar  kubangan di bawah air terjun.

“Ini perjalanan tadabbur alam pak”, ujar Warto (38)  seorang pengunjung yang sempat saya wawancarai

“Menjadi pengalaman berkesan yang tak mudah dilupakan seumur hidup”, tambahnya .

Warto memang sengaja datang dengan istri dan anak semata wayangnya untuk mengunjungi Curug Lawe.

Sementara itu Frans (37), pengunjung dari Jakarta yang sengaja datang ke Semarang untuk menikmati Curug lawe bersama dua anak balitanya menyerah sebelum sampai ke puncak. Ia menggelar tikar di pinggir sungai dan menemani anak-anaknya bermain air sepanjang aliran sungai .

“Istri saya nyerah pak, ia tak kuat berjalan sampai di puncak Curug”,katanya dengan penuh semangat

Suasana makin siang. Rasa dingin menyeruak. Merata di seluruh tubuh. Sebenarnya saya ingin lebih lama lagi bermesraan dengan alam, tapi rombongan kami sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan. Hingga rasa kenikmatan orgasme tanpa penetrasi saat saya bercumbu dengan gemulai hutan perawan Curug Lawe harus segera diakhiri.

Jalan pulang kami tempuh kembali, dengan kesan yang berbeda dari saat bernfkat. Jalur kembali yang sudah sedikit kami hafal seperti berbisik, besok ke sini lagi ya mas, nikmati lagi kesegaran air terjun lebih puas lagi.

Penulis : SS. Munawir

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here