Peningkatan Kinerja Kader Yandu, Mencegah Stunting di Desa Girimukti

0
5

Garut, SMI.- Dalam rangka mengatasi stunting, pemdes Girimukti telah mendesain program intervensi pencegahan stunting terintegrasi, yang melibatkan tenaga medis UPTD Puskesmas Cibatu (Bidan Desa), Serta para Kader posyandu. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini, diharapkan dapat menekan dan mencegah angka stunting Desa Girimukti kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Untuk pencegahan Stunting ini, Pemerintah Desa Girimukti melakuakan peningkatan kinerja kader khusunya bidang kesehatan di Aula Desa, Senin (4/11) yang diikuti 55 Kader Yandu.

Menurut Bidan (Tenaga medis) puskesmas Cibatu, Inoh Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh balita, sebagai konsekuensi dari kekurangan gizi kronis yang dialami sejak berada dalam kandungan, sampai pada 1.000 hari pertama kehidupan. Secara kasat mata, balita stunting dapat ditandai dengan kondisi fisik panjang badan atau tinggi badan lebih pendek dari anak normal seusianya.

“Dampak nonfisik dari balita stunting adalah intelektual atau kemampuan berpikir yang tidak bisa tumbuh akibat jumlah sel yang terbentuk pada otaknya tidak optimal. Ketika beranjak dewasa, balita yang mengalami stunting akan rentan terhadap penyakit dan kurang berprestasi di sekolah” paparnya.

Inoh menambahkan, penyebab stunting adalah buruknya asupan gizi dan rendahnya status kesehatan. Pemicu dari kedua faktor penyebab stunting ini adalah: Pertama,  praktek pengasuhan anak yang kurang baik; Kedua, tidak tersedianya makanan bergizi bagi rumah tangga/keluarga; Ketiga, masih terbatasnya layanan kesehatan untuk ibu terutama selama masa kehamilan, layanan kesehatan untuk balita yang tidak maksimal dan tidak berkualitas; dan keempat, kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

“Mengatasi persoalan stunting tidaklah sulit, jika semua pihak berkomitmen untuk mengatasinya. Apalagi ditopang dengan kebijakan dari pengambil kebijakan yang terfokus untuk mengatasi persoalan: Pertama, Ketahanan Pangan (Ketersediaan, Keterjangkauan dan Akses Pangan Bergizi); Kedua, Lingkungan Sosial (Norma, Makanan Bayi, Makanan Anak, Kebersihan, Pendidikan dan Tempat Kerja); Ketiga, Lingkungan Kesehatan (Akses, Pelayanan Preventif dan Pelayanan Kuratif); Keempat, Lingkungan Tempat Tinggal; dan Kelima, Data/Informasi (Bahaya/Dampak dari Stunting, Penyebab Stunting, Pencegahan Stunting serta Penanganan Stunting)” jelasnya.

Kepala desa Giri Mukti E. Sumarna mengatakan karena desa atau yang disebut dengan istilah lain merupakan pemerintah terdekat dengan korban stunting. Untuk itu, adanya komitmen Kepala Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa dan para kader Yandu dalam pencegahan stunting sebagai salah satu arah kebijakan pembangunan desa Girimukti. Pemerintah desa dalam pencegahan stunting, harus memanfaatkan dana desa secara tepat. Pemerintah desa harus juga melakukan pencegahan stunting dengan melakukan konvergensi di internal desa maupun antar desa.

E. Sumarna menambahkan, Konvergensi untuk pencegahan stunting di desa sangat penting untuk dilakukan karena, terdapat banyak anggaran dan program sektoral dari luar desa yang “berkeliaran” di desa, terkait pencegahan stunting. Sederhananya, konvergensi pencegahan stunting di desa dimaksudkan untuk mengelola sumberdaya desa maupun sumberdaya Pemerintah Daerah.

“Program sektoral terkait pencegahan stunting akan menghasilkan Pengelompokan paket layanan terkait konvergensi pencegahan stunting ini. Harus dilakukan dengan keterpaduan data, keterpaduan indikator pemantauan layanan, terintegrasi dalam sistem perencanaan pembangunan desa, terintegrasi dalam sistem penganggaran di desa” katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa dengan sinergitas dan kerja sama dalam pencegahan stunting secara terpadu adalah aspek yang harus menajadi prioritas. Langkah konvergensi pencegahan stunting di desa Girimukti dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel.

Selain melakukan konvergensi terkait pencegahan stunting, Pemerintah desa Giri Mukti diharuskan untuk menggunakan dana desa dengan berfokus pada peningkatan pelayanan publik ditingkat desa dalam rangka peningkatan gizi masyarakat serta pencegahan stunting. Hal ini sesuai dengan dengan amanat Pasal 6 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Permendes PDTT) Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018, Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019.

Dalam pencegahan stunting di level desa, keterlibatan laki-laki adalah poin yang tidak boleh diabaikan. Selama ini, pencegahan stunting di desa seakan-akan hanya menjadi tanggungjawab kaum perempuan terutama para kader posyandu yang semuanya adalah perempuan. Untuk itu, harus ada komitmen dari Kepala Desa, anggota BPD dan masyarakat dalam rangka pelibatan laki-laki  untuk pencegahan stunting.

“Saat ini pelibatan laki-laki dalam pencegahan stunting di desa, bisa diawali dengan keterlibatannya dalam mendesain Rumah Stunting Desa. Rumah Sunting Desa harus dipahami sebagai sekretariat bersama dalam konvergensi pencegahan stunting di desa. Rumah Stunting Desa ini diharapkan dapat berfungsi sebagai Community Center dan Literasi Kesehatan Masyarakat” Tambah E. Sumarna.

Sebagai Community Center, Rumah Stunting Desa dapat dijadikan sebagai ruang publik bagi masyarakat Desa untuk beraktivitas dalam urusan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa di bidang kesehatan masyarakat Desa.

Untuk Desa Giri Mukti bisa juga dijadikan sebagai ruang publik bagi masyarakat  untuk mengkonsolidasikan kepentingan tentang urusan kesehatan masyarakat yang akan dikelola dengan sumberdaya milik masyarakat desanya. Sebagai ruang publik, Rumah Stunting Desa harus menjadi alat untuk memperkuat daya tawar masyarakat desa dalam mengambilan keputusan pembangunan desa untuk urusan kesehatan masyarakat, terutama terkait dengan stunting.

Desa Giri Mukti memberikan sarana untuk meningkatkan kemampuan warga desa (perempuan dan laki-laki) dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis informasi tentang Kesehatan Masyarakat (kesmas) khususnya stunting. Manfaat dari Literasi Kesmas adalah warga desa akan bertindak rasional dalam mengelola urusan kesehatan (termasuk stunting) di desa secara mandiri.

Dengan difungsikannya Rumah Stunting Desa Giri Mukti sebagai sarana literasi kesmas dan stunting, maka warga desa akan mampu memahami dan menganalisis beragam informasi tentang kesehatan masyarakat dan stunting, sehingga dalam konteks penyelenggaraan pembangunan desa, mereka mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa, khususnya pelayanan kesehatan masyarakat.

“Jika anak-anak terlahir sehat, tumbuh dengan baik, dan didukung oleh pendidikan yang berkualitas, maka mereka akan menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan Desa. Sekaligus melapangkan jalan menuju warga masyarakat desa Girimukti sejahtera” Pungkasnya.

Pewarta : Ayi Ahmad

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here