Pengunjung Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Keluhkan Keberadaan Para Preman Pengemis

0
5208

Makam Sunan Gunung Jati adalah salah satu tujuan wisata religi yang banyak diminati oleh para peziarah.

Raden Syarif Hidayatullah, adalah salah satu Walisongo yang masyhur dengan dakwahnya  menyebarkan Islam di Tanah Cirebon. Karomahnya sebagai seorang wali melegenda, hingga saat jasadnya sudah berkalang tanah, makamnya menjadi daya pikat tersendiri bagi umat Islam yang ada di Indonesia.

Selain itu keberadaan Masjid Gunung Jati dengan arsitektur campuran jawa, Arab, dan China, menambah pesona lokasi makam ini untuk dikunjungi .

Belum lagi sejarah panjang Sunan Gunung Jati dengan beberapa istri yang salah satunya  bernama Ong Tien Nio yang berasal dari kekaisaran China menjadi wujud pesona tambahan bagi  Makam Sunan Gunung Jati, sehingga banyak dikunjungi oleh warga dari keturunan China.

Keberadaan Makam Sunan Gunung Jati memang tak bisa dipungkiri memberikan rejeki bagi penghuni sekitar makam. Terbukti dari banyaknya pedagang makanan, pakaian, dan pernak-pernik keperluan ziarah yang ada area makam.

Suara Metro Indonesia mengunjungi Makam Sunan Gunung Jati dan inilah liputannya untuk anda.

Kendaraan yang kami tumpangi menyeruak di keramaian kota Cirebon. Jalan raya Kedawung mengantarkan kami sampai di area makam. Dari jauh sudah terlihat seseorang yang dipastikan penjaga loket keluar dari pos memberikan aba-aba dengan mengacungkan secarik kertas tanda masuk. Tapi niat untuk menarik retribusi itu gagal karena salah seorang wartawan yang ikut serta menyatakan bahwa kami dari media dan akan melakukan Liputan.

Setelah mencari tempat parkir, rombongan kami turun. Berpuluh pasang mata melihat rombongan kami yang mengunakan seragam SMI, mereka seperti kawatir dengan keberadaan kami.

Lalu kami terus berjalan diantara warung-warung kaki lima yang berjajar sampai di pintu utama makam.

Di sini, sudah mulai terlihat para peminta-minta yang mulai beraksi. Mereka menjual iba dengan berbagai cara. Memakai pakaian lusuh, memperlihatkan cacat tubuh, dan tak lupa membawa keranjang plastik atau kaleng bekas untuk meminta sedekah.

Semakin mendekati pintu utama makam peminta-minta semakin banyak. Mereka mencoba menutupi wajah dengan masker dan tangan. Bahkan setengah memaksa para pengunjung untuk sekedar memberikan recehan.

Di depan pintu masuk, terdapat banyak kotak terhampar. Konon kotak-kotak amal dikelola oleh karang taruna setempat. Dan SMI sempat bertanya kepada salah seorang penunggu kotak amal. Tapi mereka menghindar saat hendak diambil gambar .

Masuk dalam ruaangan utama makam, beberapa Pekuncen makam mencatat identitas para tamu dalam buku besar. Kami pun mencatat nama dan dipersipahkan masuk setelah mereka mengetahui bahwa kami dari media.

Salah seorang pekuncen yang tak mau disebutkan namanya  menuturkan,  bahwa kondisi makam Sunan Gunungjati pada saat pandemi memang mengalami penurunan kunjungan sehingga pada bulan tertentu yang biasanya ramai, pengunjung tak terlalu banyak yang datang.

Pekuncen ini juga menuturkan bahwa keberadaan pengemis di area Makam Sunan Gunung Jati kondisinya membuat tidak nyaman para peziarah. Karena mereka sering terlihat lebih galak dari pengunjung. Kalau satu diberi, yang lain akan datang secara berombongan. Tapi kalau tidak diberi, apalagi bila disertai dengan kata-kata yang sedikit menyinggung, para pengemis akan mengumpat dengan kata-kata kotor sehingga membuat tidak nyaman.

“Mereka sudah dihalau oleh petugas keamanan dari polsek setempat, tapi begitu petugasnya pergi mereka balik lagi”, kata seorang pekuncen.

Bahkan pihak Pekuncen mengaku, mereka tidak bisa me mengusir para pengemis begitu saja. Sebab banyak diantara mereka yang tempat tinggalnya memang di sekitar area makam. Bahkan ada pengemis yang beranak cucu di situ, dan seluruh keluarganya menjadi pengemis .

Makam utama sebagai tempat jenasah Sunan Gunung Jati disemayamkan terlihat ramai. Peziarah yang datang berombongan dari berbagai daerah terlihat khusuk melantunkan zikir, tahlil dan tahmid dipimpin oleh ketua rombongan.

Sememtara dibagian lain, juga nampak lokasi makam dengan kijing dan Nisan dengan ukuran  besar. Beberapa makam tertulis dengan huruf China. Dan pada bagian depan terdapat lokasi pembakaran hio dalam tempat khusus.

Di sebelah selatan makam adalah masjid Sunan Gunung Jati. Disepanjang jalan menuju lokasi ini para pengemis nampak duduk berjejer menyanding keranjang plastik sebagai tempat uang receh. Ibu-ibu tua, bapak-bapak, anak muda, bahkan anak-anak kecil mengacungkan tangan meminta belas kasihan para pengunjung.

Terlihat seorang ibu merogoh dompet hendak memberi sedekah. Tapi karena Jalan gang sempit dan berjubal, si ibu batal mengulurkan tangan .

Seorang pengemis laki-laki yang sudah berharap akan diberi sontak berdiri dan mengejar ibu yang akan memberi sedekah. Ia mengejar seperti bandit dan mencoba memegangi tas milik peziarah. Dan akhirnya si ibu mengalah memberikan lembaran uang 5000 kepada yang mengejarnya.

Masuk dalam area masjid sunan gunung jati, terasa aroma kejayaan abad masa silam. Guci, piring, hiasan bertuliskan huruf China banyak terdapat di sini.  Tangga yang bertingkat dari bawah sampai ke ruang utama yang lebih tinggi terasa memasuki sebuah menara. Semua bagian masjid memang oleh pengelolanya dibiarkan seperti aslinya. Hanya tempat wudhu dan kamarandi yang sekarang sudah menggunakan keramik.

Lagi-lagi, di sepanjang masjid inipun berjejer para pengemis. Di mana pun berada selalu ada pengemis. Bahkan setiap kotak amal yang ada di dalam masjid pun, termasuk kotak amal yang ada di dekat tempat wudhu, dijaga oleh seseorang.

Di area parkir, kami melihat sedikit keributan. Seseorang berkopiah putih dan memakai sorban hijau nampak dikelilingi oleh beberapa orang. Mereka terlihat memegang kertas parkir bertuliskan angka 250.000.

Sayang, kami gagal mengabadikan karena diminta untuk tidak memotret.

Seorang pemandu peziarah bernama Nur Kasan (64), memberikan keterangan bahwa ia dalam setahun membawa paling tidak 25 rombongan peziarah. Ada dalam kelompok-kelompok bus besar yang ia pimpin sendiri. Dan salah satu lokasi yang tidak ia kunjungi adalah Makam Sunan Gunung Jati. Mengingat ia membawa rombongan orang-orang tua, dan pernah anggotanya mengalami patah tangan karena terjatuh waktu dikejar seorang pengemis di makam Sunan Gunung Jati.

Sangidun (56), salah seorang pimpinan rombongan peziarah dari Madiun merasa sangat keberatan dengan aksi premanisme yang terjadi di area makam Sunan Gunung Jati. Ia berharap agar pihak keamanan setempat bisa menertibkan para preman yang berkedok sebagai tukang parkir.

Sementara itu, pihak keamanan dari kepolisian setempat belum berhasil dihubungi, karena pada saat kami datang pos dalam kondisi kosong.

“Mungkin sedang patroli pak”, terang seorang pedagang di samping pos polisi.

 

Pewarta : SS.Munawir/Untung Teguh/Kristiawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here