Penanaman Akhlak dan Budi Pekerti Minimalisir Degradasi Moral Remaja

0
17
Dari kiri : Guru Besar Fakultas Hukum Undip Prof. Dr. Esmi Warassih, Ka Disporapar Jateng Drs. Sinoeng Noegroho Rachmadi MM, Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid,S.Pd. Foto : M. Taufik

Semarang, SMI.-

Kekerasan yang dilakukan oleh anak usia sekolah sekarang ini bukanlah hal baru. Kekerasan yang dilakukan bukan hanya kepada teman sesama pelajar, bahkan ada beberapa kejadian siswa yang melalakukan kekerasan kepada guru. Hal ini dilakukan karena pada usia mereka cenderung ingin menunjukkan eksistensinya, rasa jagoan yang dimiliki oleh kelompok marginalnya dan yang jadi penyebab untuk habitus sosialnya .

Baru – baru ini masyarakat dikejutkan oleh aksi siswa yang menantang gurunya, karena diperingatkan merokok di dalam kelas. Masih banyak kasus lainnya yang menjadi indikator kemunduran atau degradasi moral  anak – anak zaman sekarang. Saat ini juga terdapat indikator terjadinya degradasi moral dikalangan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, purnografi dan pornoaksi, plagiatisme, serta perundungan/ bulying.

Untuk kasus perundungan, Kementerian Sosial mengungkap sebanyak 84% anak usia 12 sampai 17 tahun pernah menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh teman sebayanya. Semua pihak sepakat bahwa solusi bagi masalah tersebut adalah penanaman pendidikan karakter, dan spiritual bagi siswa  agar memiliki akhlak yang baik dan budi pekerti luhur. Siswa yang memiliki karakter adalah siswa yang memiliki toleransi, disiplin dan menghargai prestasi.

Sekretaris Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid, mengatakan, semakin tingginya teknologi punya potensi peluang dari sisi negative yang bisa dilakukan remaja, karena teknologi yang paling cepat menangkap adalah remaja. Sehingga hadir bulying dan ini sudah merupakan trend, trend yang dibentuk bagaimana remaja itu eksis dengan identitasnya masing-masing menunjukkan jatidirinya. Ini bisa terlihat positif atau negatif tergantung campur tangan orang tua, pemerintah. contoh negative seperti geng motor diantara mereka juga ada persaingan, diantaranya eksistensi dikelompoknya.

Hamid menegaskan, kenakalan remaja dilihat dari keseharian masih dalam usia pendidikan. Oleh karena itu, di butuhkan pendidikan karakter yang ditanamkan mulai sejak dini. Pendidikan turut hadir, tidak saja kemampuan intelegensinya saja, tetapi dalam pendidikan bagaimana program penguatan karakter ke anak secara optimal harus diarahkan pada hal yang positif.

“Kontrol orang tua sangat penting bagi anak-anaknya, bagaimana dalam penggunaan gadget ? sebagian orang tua harus bisa membatasinya untuk pembagian waktu kapan untuk belajar, kapan untuk bermain yang positif pada waktu senggangnya” tuturnya, saat menjadi narasumber Dialog bersama Parlemen Jawa Tengah, dengan judul Degradasi moral dan kenakalan Remaja yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di Lobby Gets Hotel jalan. MT. Haryono No 312-316 Semarang, Sselasa (19/2/2019).

Ka Disporapar Jateng, Drs. Sinoeng Noegroho Rachmadi,MMs saat memberikan penjelasan mengenai Degradasi moral dan Kenakalan Remaja Usai selesai prime topic. Foto : M. Taufik.

Sementara itu, Ka Disporapar Jateng, Drs. Sinoeng Noegroho Rachmadi, MM  menuturkan, Pada fakta empiris menyebutkan beberapa kasus, misalnya kejadian kejadian di lembaga pendidikan ada perubahan transisi ketika seorang anak tumbuh dewasa dengan beberapa fasilitas informasi yang didapat tanpa ada pendampig. Oleh karena itu, harus ada suatu treatment secara kolektif, baik dari jajaran Pemerintah , dunia pendidikan, legislatif secara sosial dan berhimpun untuk berbuat sesuatu karena persoalan genting generasi muda bagi masa depan bangsa.

“Oleh karena itu, tetap konsisten dengan memberikan beberapa kegiatan yang menghibur anak – anak yang mengarah pada sesuatu yang mendidik”Ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Esmi Warassih mengatakan, Degradasi moral sebenarnya sudah cukup lama hanya selama ini cukup parsial, artinya yang dilihat anak yang nakal saja, Padahal itu tidak bisa berdiri sendiri.

“Kalau kenakalan remaja sudah masuknya ke criminal, maka itu tugasnya penegak hukum, tetapi apakah penegak hukum untuk anak – anak dibawah umur ini juga harus di sanksi pidana. Karena mereka masih dibawah umur” Katanya.

Menurut Esmi, ini semua juga merupakan tugas institusi – institusi, untuk kenakalan anak dilihat dari struktur sosial juga berbeda – beda mulai dari anak orang miskin, menengah sampai anak orang kaya. Disini dibutuhkan kebijakan hukum yang tepat.  ** M. Taufik

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here