Pemerintah Wajib Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

0
16
Dari kiri : Kabid Pelayanan Dinkes Kota Semarang, drg. Rahma Defi , Penggerak Pokja 4 PKK Kota Semarang, dr. Tri Rini, M.Kes. Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti, S.Sos. Foto : M. Taufik

Semarang,SMI.- Upaya memelihara dan meningkatkan  derajat kesehatan masyarakat dilaksanakan berdasarkan prinsip non diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan. Setiap langkah peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak lain adalah investasi bagi pembangunan Negara. Prinsip tersebut dilaksanakan dalam rangka membentuk sumber daya manusia (SDM), peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa dalam rangka pembangunan nasional. Hanya saja, upaya menjaga kesehatan itu kerapkali tercoreng dengan ulah tidak bertanggung jawab segelintir orang pelaku dunia kesehatan, seperti kasus dugaan pemalsuan obat dan semisalnya.

Pemerintah melalui instansi terkait wajib hadir ditengah tengah masyarakat guna menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat, sebagai amanat UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, serta member rasa aman kepada masyarakat sebagaimana amanat UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Demikian juga dengan biaya kesehatan harus bisa terjangkau seluruh elemen masyarakat, termasuk bagi masyarakat yang tidak mampu.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Hari Murti,S.Sos, mengatakan kondisi kesehatan masyarakat Kota Semarang sudah meningkat, hal ini diantaranya bahwa ibu ibu di kelompok RW mempunyai kelompok senam, di tempat – tempat umum seperti Car Free Day banyak masyarakat yang datang untuk berolah raga sehingga di harapkan masyarakat di kota semarang lebih sehat dan gemar berolah raga.

Menurutnya mereka lebih banyak mendatangi tempat tempat yang bisa mendatangkan kesehatan/ menjadikan sehat, masyarakat sudah sadar akan kesehatan, ini hal yang penting sekali. Dyah menambahkan bahwa perhatian khusus dalam menjaga kesehatan kita sudah detail, misalnya melalui posyandu, di ( Forum Kesejahteraan Keluarga (FKK) kita sudah menyentuh hampir di seluruh lapisan masyarakat.

“Mungkin memang ada sebagian masyarakat yang masih enggan ke posyandu dan sebagainya, namun kita ada petugas kesehatan yang door to door menjemput bola untuk memeriksa pelayanan kesehatan. Ada juga Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ,sampai seorang ibu hamilyang enggan ke puskesmas  saja di datangi ke rumah, kita ada bulan pertama dari hamil, melahirkan sampai nifas itu adalah upaya pemerintah kota semarang untuk menekan ibu dan anak agar kesehatan semakin meningkat. Mereka yang enggan ke puskesmas, mereka di samperi, di cek kesehatannya sampai di beri vitamin. Perhatian pemerintah kota semarang di bidang kesehatan  sangat luar biasa,” pungkasnya. Saat menjadi nara sumber pada prime topic dialog parlemen kota semarang dengan tema “ meningkatkan Kesehatan masyarakat “ yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di ruang Lobby Hotel Gets, jakan MT. haryono No 312 – 316, sarirejo, Kec. Semarang Timur, Kota Semarang, Rabu ( 11/2/2020)

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Penggerak Pokja 4 PKK Kota Semarang, drg. Tri Rini, M.Kes, mengungkapkan bahwa masyarakat kota Semarang sekarang dengan kesehatan jauh lebih baik dan dalam menjaga kesehatan kesadarannya sudah sangat tinggi.

“PKK tinggal menggerakkan saja intinya kesadaran menjaga kesehatan sudah semakin meningkat , kami dari PKK tinggal mengingatkan di forum forum dawis RT,RW dari kelurahan sampai kecamatan selalu kita gerakkan untuk hidup bersih dan sehat selalu kita galakkan lagi,” ungkapnya.

Menurut Rini dibanding lima tahun yang lalu sangat jauh karena kesadaran terhadap kesehatan belum seperti sekarang ini, kalau sekarang kesadarannya semakin tingi dan meningkat.

“Kondisi kesehatan dikota Semarang pengukuranya menggunakan Indeks Keluarga Sehat (IKS) yaitu nanti indicator ada 12 indikator dan di kota semarang nilainya baru 0,3. Jadi 0,3 masuk kategori tidak sehat tetap naik dari tahun sebelumnya dan di Jawa Tengah, Kota semarang 0,36 menempati urutan nomor 2 tertinggi tidak sehat, melalui 12 indikator yang menjadi pedoman dari dinas kesehatan kota Semarang, dari situ kita rumuskan kota semarang 0,36 itu tergolong masih tidak sehat, “ Papar Rini.

Rini berharap melalui kerjasama dengan dewan dan instansi terkait sekarang Kota Semarang menjadi 0,5. Yang paling besar menjadikan tidak sehat yaitu rokok, karena salah satu dari 12 indikator yaitu “keluarga tidak merokok “ kemudian berikutnya penyakit hipertensi yang tidak di obati secara teratur, itu juga slah satunya.

Pewarta : M. Taufik

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here