Pantai Parangtritis Mulai Dipadati Pengunjung

0
3

Penulis : SS. Munawir

Di ujung desa Parangtritis Kabupaten Bantul Yogyakarta ini terdapat dua gapura. Satu untuk masuk mobil yang keluar dari wilayah pantai. Dan satu lagi untuk kendaraan yang hendak masuk ke lokasi pantai.

Di tempat inilah beberapa orang penjaga loket melihat dalam kendaraan melalui kaca jendela yang terbuka, lalu menetapkan harga tiket 10.000 rupiah per orang. Mereka tampak sangat teliti melihat ke dalam setiap kendaraan seakan tak mau begitu saja melepas siapapun untuk bisa masuk wilayah pantai tanpa membayar tiket.

Masuk dalam lokasi pantai terlihat barisan para pedagang dengan kios-kios yang tak terlalu besar. Ada penjual makanan dan minuman, pakaian, dan penjual ikan goreng.

Saat memarkirkan kendaraan, terlihat seorang juru parkir bereeragam oranye mendekat. Menjulurkan tiket parkir sebesar 10.000 untuk kendaraan kecil, 5.000 untuk motor dan 25.000 untuk bus. Saya sempat bertanya, mengapa masih ditarik retribusi parkir, sementara di gapura ujung desa sudah ditarik retribusi masuk yang katanya sudah termasuk biaya parkir dan asuransi jiwa. Dan si tukang parkir agak kesulitan menjawab, karena menurutnya ia hanya melaksanakan perintah dari RT setempat untuk menarik biaya parkir.

Masuk ke bibir pantai suasana makin semarak. Suara deburan ombak terdengar keras menerpa daratan. Para pengunjung menikmati air laut dengan menceburkan diri ke lautan dangkal, meskipun di depan sudah ada larangan agar tidak menceburkan diri ke laut.

Orang-orang menyingkir ke tempat yang lebih tinggi saat air laut naik ke daratan. Mereka seperti takut basah. Sebab memang banyak diantara pengunjung yang hanya ingin menikmati pantai tanpa harus terkena basah air laut.

Delman,motor, mobil ATV, bahkan kuda-kuda milik penduduk setempat berjejer rapi menawarkan jasa bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana dari ujung ke ujung tanpa harus merasa capek. Mereka menetapkan harga antara 50.000- 100.000 untuk sekali naik. Baik sendirian ataupun berombongan. Tergantung dari kapasitas masing-masing kendaraan yang ditawarkan.

Sepanjang bibir pantai terdapat juga tukang foto sekali jadi, menggunakan kendaraan roda tiga sebagai armadanya. Mereka memasang harga dari 15.000-50.000 untuk sekali jepret melihat ukuran foto yang dipesan para pengunjung.

Di lokasi sekitar ini juga terdapat banyak penjaja makanan dan minuman, cinderamata, kacamata, bahkan  mainan anak-anak.

Saat ini memang masih pandemi. Sehingga aparat keamanan setempat masih berkeliling menggunakan seragam lengkap. Memberi imbauan kepada para pengunjung agar memakai masker dan menjaga jarak. Mencatat nama pengunjung yang tidak mengenakan masker kemudian memberi mereka masker agar dipakai.

Suhaimi salah seorang pedagang makanan di Parangtritis  berkisah bahwa daerah ini mulai ramai baru beberapa minggu yang lalu.

“Saya hampir putus asa mas, karena Parangtritis ditutup sementara oleh pemerintah, kami orang kecil bisa apa?” katanya memelas.

Sementara itu seorang pengelola ATV bernama Subur (45),  melukiskan bagaimana kondisinya selama beberapa bulan terakhir ini.

” Ini saya baru jalan beberapa Minggu mas, sebelumnya penghasilan saya nyaris nol dalam beberapa bulan”, kata Subur seperti terlarut dalam kesedihan yang dalam.

Di dekat lokasi parkir juga terdapat beberapa kolam keceh yang dikhususkan untuk anak-anak, dengan biaya 10.000 untuk sekali masuk.

Setelah puas bermain air laut, maka pengunjung segera berbilas, menikmati segelas minuman hangat atau mie instan. Bahkan bisa berbelanja ke berbagai kios pakaian. Atau membeli oleh-oleh untuk keluarga.

Minggu ini 11/10/20, Parangtritis terlihat mulai dipadati pengunjung. Baik penduduk lokal maupun dari luar kota. Terlihat nomor kendaraan dari berbagai daerah yang tampak terparkir di sini,Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan ada beberapa kendaraan dari luar pulau seperti Sumatera dan Kalimantan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here