Panas Tinggi Saat Bayi Membuat Ruslan Terbaring Selama 37 Tahun

0
3

Magetan, SMI.-

Suaranya kaku terbata-bata saat mencoba mengajak bicara. Kedua tangannya terlihat kaku ketika berusaha menuang jenang sumsum yang dibungkus plastik ke dalam mulutnya. Ruslan (44) terlihat berusaha tersenyum dan berusaha mengajak ngobrol meski dengan susah payah.

“ Ya begitu, kadang ngajak ngomong tapi kami nggak paham apa yang dia biacarakan karena lidahnya kaku,” ujar Boinem, orang tua Ruslan Rabu (09/01/2019).

Ruslan merupakan anak pertama pasangan Sardi (67) dan Boinem  (65) warga kecamatan Lembeyan Kabupaten Magetan Jawa Timur yang selama 37 tahun terakhir hanya bisa tergolek lemah diatas ranjangnya yang lusuh.

Menurut Boinem, Ruslan terlahir seperti anak lainnya meski berat badannya kurang dari 2,5 kilogram.  “Pada usia 7 bulan Ruslan mengalami panas tinggi, hingga kejang kejang,” imbuhnya.

Setelah beberapa hari, panas tinggi yang dialami Ruslan kecil akhirnya reda, namun sejak saat itu Rulsan mulai sering mengalami kejang – kejang atau disebut step. Seringnya mengalami step membuat pertumbuhan badan Ruslan agak terlambat dari bayi lainnya. Untuk berjalan, Ruslan mengalami kesulitan karena kaki kecilnya terasa kaku.

Di tengah keterbatasan sebagai petani, Boinem dan suaminya Sardi tetap mengupayakan pengobatan terhadap anaknya semata wayang. Sejumlah rumah sakit baik di Ponorogo, Ngawi, Madiun bahkan Rumah Sakit di Kota Kediri telah Boinem didatangi, namun tidak banyak perubahan yang dialami anaknya. Zaman dulu untuk menuju rumah sakit terdekat saja butuh waktu karena harus berjalan puluhan kilometer.

“Dulu kalau mau kerumah sakit harus 4 orang, ada dukun yang kami  bawa untuk jaga-jaga di jalan. Kami harus jalan puluhan kilo meter, kalau tidak begitu bawa sepeda ontel,” kata Boinem.

Meski tidak banyak perubahan yang bisa diharapkan dari upaya penyembuhan anaknya, Boinem masih mengucap syukur karena Ruslan akhirnya bisa sekolah seperti anak lainnya meski terlambat. Ruslan akhirnya  masuk sekolah bersaman dengan adiknya Andik Miswanto bersekolah.

“Kalau ada adiknya kan bisa menjaga karena sekolahnya jauh dan harus jalan kaki, sementara Ruslan jalannya susah,” ucapnya.

Sayangnya upaya menempuh pendidikan Ruslan tehenti saat menginjak kelas 2 SD.  Jauhnya sekolah dan semakin sulitnya kaki Ruslan digerakkan untuk berjalan menuju sekolah membuat Ruslan menyerah. Seiring berjalannya waktu, Ruslan akhirnya hanya bisa pasrah tergolek di ranjang karena kedua kakinya mulai menyusut dan kaku.

Meski memeiliki kursi roda, Boinem mengaku kesulitan mengajak sekedar jalan – jalan di sekitar rumahnya yang terdiri dari persawahan warga. Kakinya yang mengecil dan tertekuk selalu membuat Ruslan melorot turun jika ditempatkan di kursi roda.

“Kursi rodanya hanya dipakai untuk mandi saja dibelakang,” ucap Boinem.

Boinem mengaku hanya bisa pasrah dengan keadaan Ruslan. Meski meimiliki kartu BPJS untuk berobat, Boinem mengaku dia dan suaminya tak lagi mampu bepergian untuk mengantar Ruslan berobat ditengah kesibukannya bertani, sementara kedua adik Ruslan turut membanting tulang bekerja di luar kota.

Boinem mengaku tidak tahu lagi, apakah masih ada mukjizat kesembuhan bagi putranya. Dia mengaku hanya bisa pasrah di sisa usianya untuk merawat keadaan anaknya. Hari harinya hanya dilalui dengan penuh kasih merawat putranya. Memandikan, menyiapkan makan dan mengganti  mengganti seprai yang basah oleh air kencing.

“Saya hanya bisa bersabar menerima semua ini. Saya yakin ini semua memang cobaan,” pungkasnya pasrah. **Goes

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here