Menikmati Senja di Taman Citra Satwa

0
19

Penulis : Untung Teguh

Dari sisi timur BKT (Banjir Kanal Timur ) kota Semarang, lokasi ini bisa dijangkau.  Tak butuh waktu lama untuk bisa mencapainya dari jalan Majapahit kota Demarang .

Sisi barat sepanjang lapangan terdapat taman yang memanjang dengan dinding pagar kokoh.

Pedagang kopi dan makanan kecil melengkapi lokasi taman ini. Anda bisq memesan minuman panas atau dingin, bahkan mie instan cup yang dijajakan oleh para pedagang.

Di luar pagar, nampak kereta wisata yang digunakan oleh penduduk setempat menarik rejeki, dengan rute memutari kelurahan Pandean lamper.

Lalu tampak patung burung merak di sisi selatan tampak gagah seperti memyambut tamu yang datang .

Masuk ke lokasi taman Citra Satwa terdapat gentong air dengan stiker ‘silahkan cuci tangan di sini’ sebagai pelengkap fasilitas publik saat pandemi.

Tulisan Taman Citra Satwa dengan warna putih terlihat keren dan terpasang di atas dinding yang dibangun di taman.

Sisi selatan adalah area lapangan yang luas. Menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar untuk berolah raga, latihan sepakbola, maupun untuk melakukan kegiatan secara publik.

beberapa keluarga duduk di kursi tribun, sepertinya mereka adalah keluarga dari anak-anak yang sedang berlatih sepakbola. Lapangan di taman Citra Satwa memang menjadi tempat favorit bagi beberapa sekolah sepakbola di Semarang karena lokasinya yang tenang, dengan rumput tebal yang terawat rapi.

Dinding agar melingkari lapangan yang luas, sayang terlihat noda orang membakar sesuatu sehingga meninggalkan noda di dinding, dan beberapa aksi vandalisme terlihat mengotori beberapa titik sudut pagar.

Taman Citra Satwa memang seperti mencerminkan wilayah kecamatan Gayamsari yang nama jalannya adalah nama-nama binatang. Seperti banteng, beruang, onta, gajah, kijang, menjangan, badak, kangguru, dan sebagainya.

Patung-patung binatang ini seperti ikon kelurahan Pandean lamper dan selalu menjadi pusat kegiatan masyarakat baik pagi maupun sore hari.

Sore itu, matahari semakin redup di ufuk barat, kembali ke peraduan alam. Dan menyisakan gelap dengan keindahan lampu taman yang tertata rapi.

Lalu kami beringsut, meninggalkan jejak para  penikmat sore yang romantis. Dan kembali beradu nasib menyusuri jalan-jalan kota Semarang yang makin malam makin padat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here