KKU 43 Sumedang Keluhkan Maraknya Angkutan Gelap

0
29

Sumedang, SMInews.com Kelompok Kerja Unit (KKU) 43 jurusan Terminal Ciakar – Garis via Ketib dengan jumlah armada Cuma 10 unit, keluhkan penghasilan yang terus menurun karena maraknya mobil pribadi ber plat hitam  tanpa mengantongi surat izin usaha atau travel bodong yang mengangkut penumpang di jalur trayeknya.

Selain itu, anak sekolah yang biasa menggunakan jasa angkutan umum sekarang menggunakan kendaraan/ sepeda motor pribadi untuk kesekolah. Motor yang mereka gunakan biasanya dititipkan di rumah warga yang jaraknya jauh dari sekolah dengan tarif Rp. 3.000/ hari.

Menurut Ketua KKU 43 Dayan, hal ini sudah dia laporkan ke pihak terkait, dia minta agar hal ini segera ditangani karena merugikan KKU 43.

“Sebagai Pengurus KKU 43 pengen ada perhatian dari instansi terkait, karena bagaimanapun saya punya keluarga. Jangan sampai angkutan yang sudah sedikit ini nantinya bisa hilang” ucap Dayan.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris DPC Organda Sumedang Yudi Gumelar mengatakan bahwa hal ini akan ditampung dan memasukan dalam rapat agenda kerja DPC Organda.

Khusus untuk anak sekolah, pemerintah melalui pidato Bupati Sumedang sudah memerintahkan kepada dinas perhubungan untuk segera mensahkan atau membuat draf aturan bahwasanya anak sekolah ini tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.

“Jadi kita harus menunggu dulu, bersabar dulu. Karena tanpa regulasi memang kita bisa saja berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menindak pelanggaran tersebut. Namun akan lebih ideal kayaknya, kepolisian pun akan bertindak cepat setelah regulasi itu keluar melalui Perbup atau Kepbup dari bupati. Kemaren pak bupati menyarankan agar ini segera dilaksanakan. Namun karena memang sekarang sedang mas apandemi covid-19 mungkin seluruh pihak harus bersabar dulu” ucapnya.

Untuk travel gelap, Yudi Gumelar mengatakan ini sedang dalam tahap pembahasan di tingkat pimpinan, pihak organda akan berkoordinasi langsung dengan pihak kepolisian untuk menindak para pelaku angkutan gelap tersebut.

“Tentu harus dengan cara hati – hati, karena secara pelayanan mungkin masyarakat banyak yang terbantu, tapi secara aturan ada pelanggaran yang cukup berat. Karena kalau ada kecelakaan siapa yang akan bertanggung jawab” pungkasnya.

Pewarta : Y. Rusmana

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here