Kepala Disporapar Jateng : Peran Pemerintah Dalam Memberikan Porsi Peran Pemuda Lebih Dominan

0
9

Semarang,SMI.- Tahun 1945  silam Indonesia memproklamasikan Kemerdekaannya, Teks yang di bacakan Ir. Soekarno dengan lantang, menandai langkah awal Indonesia sebagai  sebuah bangsa yang merdeka. Setelah beratus tahun dijajah, NKRI berdiri dengan semangat berkorban kerajaan- kerajaan yang mampu dipersatukan oleh pendiri bangsa dengan tujuan menjadi Negara besar yang adil dan makmur serta beradab.

Semangat kesatuan yang di usung pada awal berdiri Negara Indonesia, ibarat obor penyemangat yang menjadi landasan perjuangan orang orang masa itu. Mengenal perbedaan agama, golongan apaupun, geografis masing masing daerah memberontak atas kesamaan diri tak ingin di jajah lagi.

Atas dasar kesamaan itu, hadir sebuah konsep kebangsaan dalam diri orang orang masa itu, sama halnya dengan generasi milenial, sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki hak serta kewajiban sama dengan warga Negara dari generasi lainnya. Generasi Milenial pun sudah melakukan hal untuk zamannya.

Negara harus berani tampil secara kontekstual dengan pendekatan pendekatan yang kekinian agar nilai – nilai Pancasila, Nasionalisme, Patriotisme rasa  ke Indonesiaan generasi milenial tetap terpatri. Bagaimana sebenarnya eksistensi nilai- nilai nasionalisme dan patriotisme, benarkah nasionalisme bahkan nilai nilai pancasila dari generasi milenial semakin menurun ?

Sesungguhnya harapan itu berlangsung sebuah bangsa kemudian teraktualkan potensinya secara baik, serta memiliki ketahanan yang cukup demi kehidupan  berbangsa dan bernegara termasuk didalamnya adalah ketahanan ideologi.

Ketika kehidupan ini semakin terbuka, tentu perlu redivinisi terkait nasionalisme. Semangat patriotisme tanpa menghilangkan pondasi kecintaan terhadap tanah air dan juga kesempatan dedikasi seluruh bangsa, khususnya anak – anak untuk mencurahkan energinya untuk kebaikan  agar bisa terus memiliki ide, gagasan yang maju, serta perkembangan teknologi dan globalisasi dengan memberikannegeri ini.

Anggota Komisi A DPRD Prov jateng, DR. Bambang Joyo Supeno mengatakan, “Generasi milenial sekarang ini apakah sudah mempertahankan nilai nilai patriotisme apa belum dan pentingnya pendekatan untuk emnanamkan jiwa nasionalisme dan patriotusme kepada generasi milenial,” ucapnya saat menjadi narasumber pada acara Dialog bersama Parlemen Jawa Tengah yang di disiarkan langsung MNC Trijaya FM dengan tema Nasionalisme Patriotisme Era Milenial di ruang bahana hotel Noormans, Jalan Teuku Umar nomor 27 Kota Semarang, Rabu (14/8/2019 ).

Menurut Bambang, seiring perkembangan zaman yang modern ini, generasi milenial bakal terus maju dan bisa mengubah karakter, ide, perilaku patriotisme, dia berharap para pemuda berinovatif dengan memberikan konsep berfikir yang cerdas

Sementara itu, Kepala Disporapar Prov Jateng, Sinoeng Nigraha Rachmadi, mengungkapkan, bahwa dalam meningkatkan semangat nasionalisme di kalangan milenial, peran pemerintah memberikan porsi peran pemuda lebih dominan dalam melaksanakan program – program yang ada. Karena 23,8 persen dari jumlah penduduk Jateng adalah kaum muda atau kaum milenial.

Sekitar 8,5 juta penduduk Jateng (23,8 persen)  di dominasi usia muda. Menurut sinoeng kondisi yang demikian, merupakan sebuah modal untuk menanamkan nilai – nilai nasionalisme kebangsaan dalam setiap program kegiatan yang melibatkan kaum muda.

Menurutnya dalam setiap program yang di jalankan bersama kaum milenial atau kaum muda kegiatan kepemudaan, olah raga dan pariwisata sifatnya kemitraan, artinya sekarang ini mengalami  pergeseran system yaitu Learning by doing, maksudnya sadar adau tidak kaum muda mengadakan musyawarah sesuai kebutuhan mereka.

Pada Kesempatan yang sama, Dr. Prihatin Tiyanto Agung Hutomo dari Untag Semarang, memaparkan, dalam pemahaman implementasi Pancasila dilapangan terdapat ketimpangan.  Misalnya walaupun orang desa tidak memahami teori tentang Pancasila, namun sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari. Itu kondisi dilapangan, beda dengan orang kota  yang selalu mengejar teori, maksudnya yang memiliki pendidikan.

Menurut Prihatin, pemahaman yang diterima sepenggal – sepenggal masyarakat yang kurang paham nilai – nilai pancasila, dianggapnya itu semua benar itu yang menjadi persoalan di lapangan.

 

Pewarta : M. Taufik

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here