Haul ke-7 Syekh Muhammad Saeful Anwar Zuhri

0
58

Semarang, SMI- Haul ke – 7 Abah Saeful kepala pondok pesantren Az Zuhri diperingati keluarga besar  para santri , Selasa (11/2). Prosesi haul diawali semaan Quran yang di ikuti Santri Putra dan putri juga dari  para alumni. Acara yang di gelar di Masjid Baitul Hidayah Jalan Ketileng Raya no 13A Semarang Jawa Tengah ini nampak ramai padat. Jalan Ketileng Raya sempat ditutup agar para jamaah tidak terganggu.

Dalam haul ini dilakukan prosesi  Ganti Luwur, atau kain penutup makam  Lingkar. ”Kita sedang menghauli sosok ulama yang egaliter dan sangat dekat dengan umat,”  kata mbah Bey yang juga santri senior abah.

Enam tahun lalu, tepatnya 12 Februari 2013, Abah Saeful meninggal dunia, sejak itu kepemimpinan Pondok Pesantren Az-Zuhri dilanjutkan oleh putra bungsunya KHM Lukman Hakim (Gus Lukman).

”Alhamdulillah walau pun Abah sudah wafat, semangat beliau tetap menyemangati keluarga Az-Zuhri. Buktinya semua majelis pengajian dan dakwah yang dirintis Abah tetap jalan. Bahkan berkembang hampir di berbagai daerah di Jateng. Santri bertambah banyak dan aktivitas ngaji dari bakda Subuh sampai Subuh lagi tetap meriah,” kata  Haji Budi salah satu santri senior.

Kh. M Lukman Hakim atau yang akrab dipanggil Gus Lukman yang merupakan penerus dari Pondok Pesantren Az Zuhri menceritakan perjalanan ayahnya secara singkat.

Abah Saeful terlahir dari rahim seorang Ibu bernama Sukarni yang pandai berbahasa Padang, Jepang bahkan Belanda, sungguh pengetahuan langka bagi seorang perempuan di zamannya.

Ayahnya adalah KH Mudatsir Zuhri dari Sokaraja Banyumas, yang dikenal dengan karomahnya bisa terbang saat banjir melanda, dan mengevakuasi warga desa. Jika ditelusuri lebih jauh, nasab beliau Abah Syekh Saeful menyambung hingga Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin, salah satu Walisongo.

Abah Syekh tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana di Kauman, Sokaraja, Banyumas. Salah satu maziah atau keistimewaannya saat masih kecil, adalah ketika pernah mencuri buah-buahan tetangga. Namun anehnya tak pernah menikmati hasil curiannya, buah curian seringkali disembunyikan namun hilang saat esok hari hendak dimakan.

”Mungkin beliau dijaga oleh Allah swt dari barang haram,” kata Gus Lukman.

Sebagaimana kenakalan anak seusianya, Abah kecil suka berantem, bahkan pernah sebatang pensil menancap di tubuh saudaranya akibat perkelahian. Dia dikenal berjiwa pemimpin, kreatif, dan inovatif adalah beberapa karakter yang terbentuk sejak Abah remaja.

Pergaulan Abah Syeikh remaja tidak sebatas hanya dengan anak Pondokan di Kauman namun juga merangkul anak-anak nakal hingga membentuklah suatu geng yang diberi nama “Corner Boys Club”. geng bentukan Abah itu beraliran Hippies.

Sejak remaja Abah Saiful sudah terlihat kekeramatannya, jika terlambat sekolah seringkali mencegat kereta api cukup dengan menggaris rel dengan jari, membuat kereta api berhenti. Juga pernah berburu burung cukup dengan menatapnya tajam, jatuhlah burung tersebut. Sebuah keistimewaan yang bagi beliau sendiri hanya “dolanan bocah” (mainan bocah).

Beliau mudah bergaul pada siapa pun dengan latar belakang apa pun, dari orang melarat hingga pejabat, dari orang ‘alim hingga preman jalanan. Bagi Abah Saeful rasa hormat.

dan penghargaan yang ditujukan pada orang yang derajatnya-dianggap-lebih tinggi itu suatu kewajaran, namun siapakah yang mau menghormati dan menghargai mereka yang dianggap lebih rendah? Tak mengherankan jika saat muda pernah diminta nasehatnya oleh Presiden Soekarno era akhir (1967) dan era Soeharto.

Abah Syekh Saiful bersama istri, Hj Faizzah Saiful Anwar hijrah ke Kota Semarang pada 1971 menempati rumah kontrakan di Jl Badak, Pandean Lamper Semarang. Hingga 1979 menempati rumah sendiri di Perumnas Ketileng Indah, Kelurahan Sendangmulyo, Semarang. Sejak bermukim di Ketileng, Abah mulai merintis berdirinya Pondok Pesantren Az-Zuhri. Berawal dari membentengi keluarga dengan mengajar ngaji pada putra putri beliau sendiri hingga akhirnya menarik minat tetangga sekitar mau pun tetangga desa untuk menitipkan putra-putrinya.

Perjuangan yang tidak mudah karena awalnya desa Ketileng masih gersang secara geografis mau pun secara mental spiritual. Tantangan dan hambatan tentu ada, dari persoalan tanah, tantangan duel dari seorang pendekar di Ketileng hingga gangguan secara metafisik juga beliau hadapi. Namun berkat pertolongan dan rida Allah swt semuanya bisa teratasi. Hingga pada akhirnya kehadiran Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri justru semakin memberi dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

 

Tak Boleh Mengaji

Sebenarnya sejak remaja Abah Syekh tak pernah diperbolehkan mengaji. Dia selalu mendapatkan penolakan dari para Kiai Sokaraja manakala meminta izin untuk dijadikan santri. Sebut saja Ustadz Asy’ari, KH Muharir, KH Hidayat (Mbah Dayat) dan KH Ahmad Syatibi. Termasuk KH Ma’shum juga menolak beliau, malahan Abah Saeful dicengkiwing (diangkat kerah bajunya). Bahkan di tempat Eyang Halimi bukannya diperbolehkan mengaji malah disuruh melinting tembakau.  Hingga kelak Abah Syekh baru memahami bahwa sebenarnya para Kiai Sokaraja menolak beliau mengaji sebab mereka para kiai itu merasa tak pantas menjadi Guru bagi Abah Syekh.

Banyak kejadian yang membuka tabir kekeramatan Abah Syekh dan pada akhirnya diakui beberapa ‘ulama di antaranya kedekatan beliau dengan Habib Syekh Hamid Sokaraja. Hanya Abah Syeih Saiful yang bisa ngobrol bercanda, dan ngewongke (memanusiakan) saat Habib Syeih laku majdub di mana saat itu semua orang tak pernah menganggap bahkan takut jika Habib Hamid melewatinya. Habib Hamid pernah mengatakan “Ipung (nama kecil Abah Syeikh) kae ya anak inyong, ya bapak inyong, ya murid inyong, ya guru inyong.” Hal tersebut disaksikan oleh Gus Luqman dan beberapa santri.

Bisa dibilang Habib Hamid adalah guru, sahabat, bahkan murid Abah Saiful, sebuah hubungan guru-murid yang unik karena demikianlah biasanya sikap tawadhu’ para ‘Auliya Wira’i. Demikian pula hubungan beliau dengan Eyang Abdul Ghoniy dan para Mursyid Thariqoh Muktabaroh di Sokaraja, Banyumas lainnya. Demikian pula kedekatan Abah Saiful dengan Mbah Ahmad Arif yang merupakan salah satu jawara tanah Nusantara, dan juga salah satu Guru silat Gus Maksum Kediri.

Kekaguman para ulama Banyumas semakin bertambah saat Abah Syekh Saiful meminta supaya jasad Kiai Dayat (KH Muhammad Hidayat) dipindah dari pemakaman umum ke sebidang tanah dekat Masjid Al Makmur kompleks Ponpes Al Makmur. Kiai Dayat sendiri adalah Rais Syuriah PCNU Kabupaten Banyumas sekaligus Mursyid Thoriqoh Qodiriyah, juga merupakan abdi dalem dan murid kinasih dari Mbah Ma’shum Lasem. Permintaan Abah Syekh ini bukan tanpa alasan, beliau mendapat pesan khusus/ ibroh dari Kiai Dayat sendiri. Sebuah permintaan yang semula ditentang namun akhirnya justru ada hikmahnya, dengan pemindahan jasad tersebut barulah secara langsung mereka menyaksikan jasad Kiai Dayat masih utuh. Para Kiai dan masyarakat Banyumas semakin segan dengan Abah Syekh sebab peristiwa itu.

Sejak mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri beiau mulai dikenal oleh para Alim Thariqah Muktabaroh Nusantara termasuk Abah Dimyati Pandeglang (KH Muhammad Dimyati) Banten tokoh Tarekat Sadziliyah justru kagum dengan Tarekat yang diamalkan Abah Syeikh di Ponpes Az-Zuhri, sebuah tarekat yang berpegang teguh pada “Mengaji sampai mati.

 

KH Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan, Mbah Ridwan Sidogiri pun mengakui dan mengagumi tarekat yang Abah Syekh Saiful jalani.

Pernah suatu ketika ada seseorang yang memfitnah Abah Syekh dan mengadu pada KH Ahmad Abdul Haq  Dalhar (Mbah Mad) Watucongol, namun justru Mbah Mad Watucongol mengajak muridnya tersebut sowan pada Abah, dan Mbah Mad sendiri yang memintakan maaf. Masih belum terima dengan hal tersebut, orang itu mengadu lagi pada Syekh Durrahman dengan harapan mendapat pembelaan, namun sikap Syekh Durrahman sama, beliau mengajak sowan pada Abah Syekh dan memintakan maaf untuk orang tersebut.

Peristiwa lain yang menambah daftar ‘Ulama maupun ‘Auliya yang mengagumi sosok Abah Syeikh adalah hari dimana Kiai Haji Hasan Asy’ari (Mbah Hasan Mangli) seketika memundurkan mobilnya saat melihat Abah Syekh sedang duduk santai minum kopi dengan beberapa santri, tepatnya di daerah Parakan Temanggung. Setelah turun dari mobil, Mbah Hasan Mangli langsung sungkem pada Abah Syekh dan meminta izin untuk dijadikan santri, habis itu langsung pergi lagi. Bahkan menurut Gus Lukman, Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah meminta doa restu pada Abah Saiful saat akan menjabat Presiden RI. Semoga kita dapat mengambil contoh teladan dari kehidupan Kiai Abah Saeful, amin.

 

Pewarta : Untung Teguh

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here