Guru SMA/SMK/SLB di Jateng 75% Sudah S1/D4

0
56
Dari kiri : Wakil Sekretaris PGRI Jateng Dr. Maryanto, M.Si, Kabid Pembinaan SMK Disdikbud Prov Jateng Dr. Heri Mulyanto,S.Pd.M.Pd, Ketua DPRD Jateng Dr.Drs. Rukma Setyabudi,MM, Moderator Past. Foto. M.Taufik

Semarang, SMI.-

Peringatan hari Guru yang jatuh pada 25 November dan diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI. Peringatn hari Guru tahun ini mengambil tema “Meningkatkan profesionalisme Guru menuju pendidikan Abad 21”, tema ini memiliki bobot visi yang penting di masa depan. Saat ini sebagai pendidik, seorang guru harus mampu berinovasi, menyiapkan SDM yang mampu bersaing hingga digitalisasi industri.

Apa yang sudah dialami sekarang tentu berbeda dengan apa yang akan terjadi di masa depan, Inilah yang menjadi pertimbangan penting dalam pengelolaan pendiidikan. Dalam perspektif ekonomi,  pendidikan adalah human investment bukan financial investmen. Untuk itu, sosok guru menempati posisi penting sebagai pendidik bukan hanya sebagai pengajar. Karena guru memiliki peluang yang besar untuk membekali pengetahuan, pengalaman, menanamkan nilai moral dan spiritual untuk masa depan anak didiknya.

Ketua DPRD Jateng Dr. Drs. Rukma Setyabudi, MM

Ketua DPRD Jateng, Dr. Drs. Rukma Setyabudi,MM menyatakan, bahwa guru dizaman sekarang dituntut untuk menyesuaikan keadaan yang berkembang, terutama saat ini dengan adanya teknologi informasi yang bebas yang tidak bisa dibatasi. Guru dituntut lebih professional, artinya secara ilmu pendidikan sudah maju, pengalamannya bukan hanya mengajar memberikan ilmunya, juga memberikan pendidikan kepada anak didiknya yang layak, bagus dan tidak ketinggalan dengan keadaan yang berkembang sat ini terutama dunia medsos.

Rukma berharap guru bisa memberikan batasan-batasan mana yang baik, mana yang tidak baik, tidak bisa membatasi terhadap anak didik. Rukma mendorong dalam pendidikan karena ada yang lebih penting lagi yaitu pendidikan budi pekerti, karena salah satunya bisa menjadikan anak didiknya sebagai manusia seutuhnya, berbudaya, menghormati orang tua mengerti umpan papan artinya bisa menempatkan dimana dirinya berada.

Rukma mengkritisi bahwa budi pekerti zaman sekarang jarang disentuh, guru biasanya hanya mengajar, sebab kalau kita mencermati bahwa konten yang ada melalui koputer, medsos tidak bisa dibatasi terutama informasi yang masuk.

“Untuk itu kami meminta menanamkan budi pekerti harus dikedepankan juga, diharapkan anak didik mengerti batasan mana yang baik mana yang tidak, mana yang layak pantas dipelajari supaya anak didik menjadi manusia yang seutuhnya.” Katanya, sebagai salah satu narasumber dalam Dialog Parlemen Jawa Tengah dengan tema ‘Tantangan Pendidik Diera Milenial ‘ yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di Lobby Hotel Gets, jalan . MT. Haryono no 312 – 316 Semarang, Selasa (27/11/18).

Sementara Kabid Pembinaan SMK Provinsi Jateng, Heri Mulyanto mengatakan komposisi guru ada 3 masalah besar dibidang pendidikan diantaranya guru, mencakup jumlah dan kompetensinya. Kemudian masalah sarana dan prasarana baik pemenuhan standar maupun teknologinya serta kurikulum yang terkait bagaimana menyiapkan anak didik dalam menghadapi revolusi industri. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menginisiasi khususnya untuk para guru, karena belum bisa memenuhi kebutuhan, maka alternatifnya melalui GTT maupun PTT pemberian honor sementara UMK + 10% .

“Terkait kualifikasi guru syaratnya harus S1/D4, Data yang kami miliki di Jateng guru yang memenuhi kualifikasi S1/D4, SMA 85,15%  , SMK 70,24% dan SLB 77,03% artinya dari aspek kualifikasi pendidikan di jateng sudah 75% ,tinggal menyelesaikan yang 25% ,karena masih D3 ” tuturnya.

Ditempat yang sama, Wakil Sekretaris PGRI Jateng, Maryanto memaparkan kadar profesional guru, bahwa guru sekarang rata-rata sudah profesional, tetapi ada juga yang belum profesional. Sesuai Undang – Undang Guru dan Dosen nomer 14 tahun 2005, secara normatif guru yang sudah profesional adalah guru yang mempunyai kualifikasi pendidikan S1, punya sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohami.

“Bagi kami guru sudah semakin profesional karena dalam era otonomi daerah, pembagian wilayah kerja antara Pemprov dan Kabupaten Kota semakin baik kemudian tugas dari organisasi profesional yaitu membina tingkat profesionalitas guru. PGRI Jateng berkonsentrasi mengembangkan ranah profesi guru sehingga pada tahap morganisasi, perjuangan PGRI mengarah pada pengembangan profesi guru,” pungkasnya.  ** M. Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here