Di Era Milenial Emansipasi Makin Fokus Pada Pemberdayaan Ekonomi Wanita

0
10
Dari kiri: Ka Didperindag Prov,Jateng. M.Arif Sambodo.SE.M.Si,Kepala DP3AKB Jateng, Drs.Sri Winarna,M.Si, KaDinas Koperasi dan UMKM Jateng, Dra. Ema Rahmawati.M.Hum, Anggota Komisi B DPRD Jateng, Dr.Messy Widiastuti. Foto : M. Taufik.

Semarang, SMI.-

Sosok RA Kartini senantiasa menjadi topik pembicaraan seputar emansipasi wanita, usaha Kartini untuk memperjuangkan hak wanita untuk mendapatkan pendidikan setinggi – tingginya, dan diberikan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu yang dimiliki, agar tidak direndahkan derajatnya, menjadikan Kartini dikenal sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.

Emansipasi sendiri istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha  untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Di era milenial sekarang ini emansipasi makin fokus pada pemberdayaan ekonomi wanita. Karenanya, emansipasi didorong agar wanita mampu menopang kehidupan diri sendiri, dan kekurangannya tanpa meninggalkan kodrat sebagai sosok wanita, istri maupun ibu rumah tangga.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sejak telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pengembangan pelaku usaha Industri Rumahan (IR). Industri Rumahan adalah industri skala mikro yang menghasilkan produk barang jadi, dan memberikan nilai tambah serta dikerjakan dirumah secara khusus, atau sebagai kerja paruh waktu.

Kementerian PPA menerbitkan Peraturan Menteri No 2 tahun 2016 tentang pedoman umum pembangunan industri rumahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan perempuan.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Dr. Messy Widiastuti mengatakan, perjuangan demi perjuangan lingkungan, dari seorang perempuan itu sendiri maupun faktor – faktor lain yang mempengaruhi. Dari adat istiadat, bisa menghambat perkembangan sehingga perlu disentuh dengan program program tersendiri demikian juga faktor – faktor eksternal  seperti pendidikan yang kurang, kebudayaan, adat istiadat perlu disentuh sehingga perempuan perlu mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum lelaki, karena dari dulu perempuan selalu dibawah laki – laki mulai dari konco wingking, pekerjaan, lingkungan domestic tidak mendapatkan gaji, padahal itu pekerjaan yang mulia.

“Itu semua harus kita gali dan kita ungkap. sehingga bisa membuat suatu terobosan yang bisa memperbaiki kesempatan perempuan untuk memjadi seseorang dalam membangun bangsa dan Negara ini” Ungkapnya.

Menurutnya, kesempatan memang sudah ada, walaupun belum setara. Misalnya perempuan yang ada di parlemen 30 persen, tetapi juga bersyukur karena kaum pria  juga memberikan kesempatan kepada perempuan. Tetapi kemampuan sebagai kaum perempuan belum bisa menyamakan diri dengan laki laki, karena segala permasalahan yang dihadapi perempuan yang begitu luas perlu diperbaiki baru bisa setara.

“Lingkungan sosial perlu kita didik juga, supaya bisa menerima keadaan sama dengan laki – laki dari awal sebagai anggota dewan. Perempuannya hanya 11 anggota dewan, sekarang yang ada meningkat 27 anggota dewan dan nanti saya yakin kedepannya bisa lebih dari 30. Sekarang ini penduduk laki – laki dan perempuan jumlahnya hampir sama, bahkan disatu tempat  ada laki laki jumlahnya lebih banyak Karena perempuan melahirkan, kematian saat melahirkan itu terbukti perempuan jumlahnya hampir sama dengan laki laki. Itu membuktikan bahwa perempuan harus diberikan kesempatan yang sama, sehingga nantinya bisa berkembang bersama,” pungkasnya, saat menjadi narasumber pada dialog bersama parlemen Jawa Tengah dengan tema Memaknai Emansipasi Wanita Di Era Milenial yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di Lobby Gets Hotel Jalan MT. Hryono no 312 – 31 Kota Semarang, Senin, (29/4/2109).

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Prov. Jateng, Drs. Sri Winarna. M.Si menjelaskan, Jawa Tengah merupakan salah satu lokasi uji coba terkait dengan Industri Rumahan. karena dianggap terbaik di Indonesia. Sehingga sampai dikunjungi dari 10 delegasi Iran untuk melihat industry rumahan ini, bahkan sampai 4 hari disini, dan juga mengembangkan terkait dengan Tingkatan Produktif Ekonomi Perempuan (TPEP). Inilah yang nantinya akan sinkron terkait peningkatan ekonomi untuk perempuan.

Menurutnya, sesuai dengan slogan Jateng gayeng inceng wong meteng merupakan hal yang menarik, dan ini juga upaya penurunan angka kematian yang cukup drastis. “Mengenai kemiskinan, salah satu yang kita dorong bagaimana pemberdayaan perempuan menjadi lebih dominan. Pesan kami untuk perempuan jateng maju terus untuk berdikari,maju untuk ekonomi agar nantinya bisa bagaimana kita bertanggung jawab” pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM Prov Jateng, Dra. Ema Rachmawati,M.Hum menuturkan, dilihat dari Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk taraf ini paling banyak perempuan. Jadi kalau kita mengadakan pelatihan di dinas, ada 3 jenis pelatihan yaitu pelatihan vokasi, pelatihan managerial dan pelatihan kompetensi.

“Untuk pelatihan usaha mikro kecil hampir 80 persen pesertanya perempuan, kita ambil satu contoh  pelatihan vokasi batik, itu ada tingkatannya yaitu pelatihan batik dasar, lanjutan dan mahir. Nanti setelah mereka berhasil, kita undang lagi untuk mengikuti pelatihan managerial. Karena biasanya perempuan kalau baru membangun usaha tidak di melekkan pada kehidupan yang lain, maka dia akan berhenti pada pelatihan ketrampilan saja. Yang lebih penting lagi bagaimana kita membangun ekonomi rumah tangga,” ungkapnya

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov Jateng. M. Arif Sambodo,SE.M.Si mengatakan, saat ini bagaimana memasuki era milenial punya kepercayan, punya kemampuan, punya mental. Kalau dilihat secara kasat mata di dunia industry ini ternyata perempuan ini yang bergerak di industry kecil, menengah, umumnya mereka bermental tangguh, ulet didalam meng upshort factor – factor ekonomi.

Menurutnya di era milenial juga ditandai ekspektasi yang tinggi karena ada semacam keinginan yang muncul, ada kesempatan yang bisa diraih tidak seperti 20 tahun yang lalu dan peluang bagaimana menambah ekonomi rumah tangga ini banyak ditangkap oleh perempuan dan ekspektasi yang tinggi untuk meningkatkan pendapatan.

Pewarta : M. Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here