Derita Lumpuh Layu, Dinda Pingin Sekolah

0
0

Papan plywood dengan roda plastik di empat sisinya itu teronggok disudut rumah yang kumuh yang berdebu. Roda kecilnya dibiarkan saja masuk ke bagian lantai yang telah terkelupas. Kursi roda yang usang dan sudah berkarat juga dibiarkan terdiam  didekat kasur usang yang dihamparkan di lantai di ruangan rumah bagian belakang. Dinda Putri Aprilia (6) terlihat sigap menyeret kedua kakinya yang lunglai menuju teras rumah menemui teman-teman kecilnya yang sudah menunggu.

Beruntung hari ini Shiva (4) Gamma (1,5) dan sejumlah anak-anak balita  lainnya berkumpul di teras rumahnya, sehingga ada teman bermain dengannya disaat kakanya Siswanto (21) mengantar ibunya Minah (44) berobat ke puskesmas terdekat. Tangan Dinda cekatan menciduk tanah dari ceruk lantai semen rumahnya yang telah rusak. “ Saya mau masak sayur,” ujarnya ceria Kamis (10/10/2019).

Tak lama Siswanto terlihat pulang dengan mengendarai motor butut warisan almarhum bapaknya. Dia langsung menuju dapur rumah yang terletak di bagian belakang rumahnya untuk memasak air untuk  minum. Dia terpaksa libur dari pekerjaannya sebagai buruh konveksi hari ini agar bisa mengantar ibunya berobat. Hari ini terpaksa dia ikhlaskan jika gajinya nanti  akan dippotong perusahaan. Kegiatan rutin tersebut dilakukan setiap  seminggu sekali.

“Ibu habis dioperasi kakinya karena luka akibat diabetes.  Luka di kakinya sudah mulai pulih. Masih ngantri saya tinggal pulang jagain Dinda,” katanya.

Dinda yang bermain di teras rumah bersama teman temannya hari ini terlihat ceria. Sesekali tubuh bagian kaki mungilnya diseret mengikuti anak anak balita yang berlarian kesana kemari. Di beberapa bagian kaki Dinda terlihat menghitam dan menebal karena bergesekan dengan lantai rumah yang terbuat dari semen.

“Biar ada papan beroda, itu diberi sama seseorang agar mudah bergerak, tapi nggak juga dipakai. Ada juga kursi roda dari tetangga juga gak dipakai. Dia lebih suka ngesot,” ujar Siswanto.

 

Sakit Panas Yang Dipijat

Keadaan Dinda yang mengalami lumpuh layu menurut Siswanto berawal dari sakit panas yang  diderita adiknya ketika berusia 8 bulan. Sutopo ayah  Siswanto yang bekerja sebagai pembuat genting  saat itu memilih memijatkan Dinda kecil karena kebiasaan sejumlah warga di Desa Bogorejo  seperti itu.

“Dinda seperti anak lainnya,  ceria, aktif dan sering minta tetah untuk belajar jalan,” imbuh Siswanto.

Pasca di pijat, kedua kaki Dinda seperti lemas dan tidak sanggup menahan badannya yang mungil saat ditetah untuk belajar berjalan. Keadaan tersbeut berlanjut sampai saat ini, sehingga untuk beraktifitas Dinda lebih banyak dibantu. Dengan keadaan seperti itu, kegiatan keseharian Dinda hanya berkutat di rumah bermain.

“Biasanya tidak seramai ini karena kebanyakan orang tua anak anak pada bekerja. Kebetulan ini tadi pada ngumpul,” ujar Fatimah tetangga Dinda.

Saya Pingin Sekolah

Meski mengalami lumpuh layu, Dinda masih sempat mengikuti PAUD dengan diantar jemput oleh bapak maupun ibunya.  Namun, ditengah semangatnya bermain dan belajar di Paud, Ibunya tiba-tiba harus menjalani operasi luka di kaki akibat sakit diabetes. Tak lama kemudian ayahnya Sutopo meninggal dunia. Tidak adanya tulang punggung keluarga di saat ibunya sakit diabetes membuat tangung jawab mencari nafkah bergantung kepada Siswanto. Akibat kejadian beruntun tersebut membuat sekolah Dinda terabaikan.

Stetoskop mainan dari plastik tersebut sesekali Dinda mainkan, ditletakan di beberapa bagian tubuh Shiva, temannya bermain. Setiap ditanya cita-citanya,  Dinda kecil akan lantang menjawab menjadi dokter. Dengan keadaannya  tersebut Dinda berharap ada orang yang baik hati yang membantu kebutuhannya bisa sekolah seperti anak anak lainnya. Melalui akun netizen Marni Siswanto putri, Dinda menitipkan permohonannya agar bisa tetap sekolah.

“Ibu, aku ingin sekolah. Aku tak mau bodoh. #kakiku lumpuh. #dinda namaku bogorejo Barat. #Ibuku sakit. #Bapakku meninggal.# bantu aku sekolah,” pesannya. **Goes/Ton

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here