Deklarasi Dukungan BRM Mohamad Moenir Tjahkraningrat Sebagai Ahli Waris yang syah Dari Pakubuwono IX Di Keraton Surakarta

0
10

Surakarta,SMI.- BRM Mohamad  Moenir  Tjahkraningrat, dari Raja Pakubuwono ke X, Kraton Surakarta (Solo) Mengadakan Pengukuhan  dan deklarasi dukungan untuk ke absahan sebagai ahli waris yang syah dari silsilhah keluarga Raja Surakarta, di Joglo Sekarlangit Mangunsari Kota Salatiga Jawa tengahJum’at, (30/8/19).

BRM Muhamad Moenir  Tjakraningrat, bersama putra – putranya, berjuang untuk meluruskan silsilah dari kerajaan Mataram.

“Selama 80 tahun ini saya tentu  sangat  menyadari bahwa ada sebuah kondisi yang tidak seharusnya terjadi, dan kondisi ini tentu berdampak kepada bengkoknya sejarah Keraton Surakarta, dan percayalah bahwa hari ini adalah saksi bagi kita semua, untuk kembali meluruskan kebengkokan sejarah tersebut” Ungkap BRM Mohamad Moenir.

Muhamad Moenir menjelaskan bahwa selama ini dirinya berdiam diri dan tidak pernah muncul sebagai ahli waris yang syah dari Eyang Pakubuwono ke X, dengan Permaisuri GKR Mas karena suatu kepatuhan.

“Kami di didik dalam keluarga agar menjunjung tinggi rasa hormat  dan patuh pada orang tua kami, ibunda kami anak tunggal dari Pakubuwono X dengan Permaisuri GKR Mas, yakni GKR Pembayun. Beliau telah berpesan untuk tidak meributkan tahta dan harta Keraton kecuali ada panggilan dari pihak Keraton agar meneruskan tahta kerajaan sebagai keturunan yang syah dari Pakubuwono X, dengan permaisuri GKR Mas” Paparnya.

Selama ini, pihaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun  ketika ada yang memanipulasi silsilhah keluarga, maka dia terpanggil untuk mempejungakanya. “Ada pepatah mengatakan, ketiga pragmatisme  menjadi  sobat kekuasaan maka idealisme yang menyemai perlawanan” katanya.

Menurut sejarah, pada tahun 2004 tepat nya ketika wafatnya Paku Buwono Ke XII telah di pertontonkan sebuah “Akrobat” politik di keratin, yang mengakibatkan kebisingan dalam keraton. Sehingga kraton Surakarta sudah diketahui secara luwas mengalami degradasi, akibat adanya perselisihan internal yang sangat memalukan. Dimana dua pihak saling mengklaim sebagai pewaris tahta yang syah.

Sehingga terdapat dualisme Raja yang saling berebut aset dan membangun pembatas, penghargaan dan gelar kehormatan semu di obral, agar kas keraton yang kosong dapat terisi. Belum lagi permasahan Hukum yang melibatkan anak dengan orang tua sendiri dan hal – hal  lain yang sangat pelik untuk diungkapkan.

Joko  Widodo saat menjabat Wali Kota Solo, pernah ikut turun tangan memprakasai perdamaian antar pihak  yang bersiteru agar tidak terus berlarut – larut jadi tontonan, yang akan menurunkan marwah keraton Surakarta.

“Ironisnya sampai  detik ini, mereka belum ada itikat baik untuk menghubungi kami agar meluruskan, dan meneruskan  tahta keraton  Surakarta kepada keturunan yang syah dari Pakubuwono X dari permaisuri GKR Mas” Pungkasnya.

 

Pewarta :Untung Teguh

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here