Cukup Dua Saja, Staf Khusus Milenial Presiden Yang Mundur

0
8
Pudjo Rahayu Risan

Cukup dua saja, Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi yang mundur. Dalam hitungan hari, dua Stafsus Jokowi ‘Resign’. Dua anak muda cemerlang aset bangsa, baru lima bulan menjadi Stafsus Presiden akhirnya ‘layu sebelum tuntas berkiprah’  mendampingi Jokowi. Walau beda konteks permasalahan, mundurnya Adi Taufan kelahiran Jakarta, 24 Januari 1987  menyusul rekan Stafsus Adamas Belva Syah Devara kelahiran  Jakarta, 30 Mei 1990, terlepas pro dan kontra atas kesalahan atau posisi mereka ada aroma Conflict of Interest.  Sejujurnya Indonesia rugi, maka cukup dua saja.

Dengan mundurnya Adamas Belva Syah Devara Pendiri Ruang Guru dan Andi Taufan Garuda Putra CEO Amartha masih menyisakan lima Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi. Mereka adalah Ayu Kartika Dewi perumus Gerakan Sabang Merauke, Billy Gracia Yosaphat Mambrasar peraih beasiswa kuliah di Oxford, Putri Indahsari Tanjung CEO dan pendiri Creativepreneur, Angkie Yudistia pendiri dan CEO Thisable Enterprise,  dan Aminuddin Ma’ruf mantan Ketua PMII.

Pada kondisi obyektif dan normal, sayang apabila kelima Stafsus Milenial tersebut, entah apa penyebabnya, suatu saat mengundurkan diri. Kenapa ? Karena mereka asset bangsa, kader nasional yang memiliki kapasitas dibidangnya, masih muda, berpendidikan, intelek, dan memiliki rekam jejak prestasi yang dijalankan sebelumnya terbukti secara empiris.  Kesimpulan layak dipertahankan. Sekaligus sebagai generasi pengganti dan penerima estafet penerus kepemimpian nasional dimasa depan.

 

Teman diskusi, inovatif dan kreatif

Tanggal 20 Oktober 2019 Jokowi dilantik menjadi Presiden untuk periode kedua, sebulan kemudian pada tanggal 21 Nopember 2019 mengumumkan menunjuk tujuh Staf Khusus Milenial. Presiden Jokowi akan menjadikan tujuh  anak muda Stafsus barunya menjadi teman diskusi harian, mingguan, dan bulanan untuk memberikan gagasan-gagasan segar yang inovatif dan kreatif. “Sehingga kita bisa mencari cara-cara baru, cara-cara yang out of the box, yang melompat untuk mengejar kemajuan negara,” kata Presiden Jokowi saat itu ditengah-tengah anak-anak muda sambil duduk lesehan di serambi Istana.

Selain itu, para staf khusus milenial tersebut akan menjadi jembatan antara Presiden dengan anak-anak muda, santri muda, hingga diaspora yang tersebar di berbagai tempat. Optimisme dengan gagasan-gagasan segar dan kreatif untuk membangun negara ini, kita akan lihat nanti gagasan-gagasan itu apakah bisa diterapkan dalam pemerintahan.  Presiden sangat besar menaruh harapan kepada mereka. Pada gilirannya, akan muncul inovasi, kreativitas, gagasan, ide, hingga terobosan baru dari para staf khusus yang baru tersebut sehingga akan semakin memudahkan Presiden dalam mengelola negara Indonesia. Stafsus Milenial diharap punya terobosan seperti bagaimana mengelola puskesmas yang tersebar di seluruh Tanah Air melalui pendekatan aplikasi sistem.

 

Rimba belantara birokrasi

Tujuh anak-anak muda pilihan masuk ke pusat lingkaran istana. Masuk ke pusaran birokrasi yang sudah berjalan mapan. Baur dengan dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama birokrat permanen yang sudah ada dilingkungan Kementrian Sekretariat Kabinet. Kelompok kedua berbagai orang dengan latar belakang aneka warna, plural, mereka datang dari kalangan akademisi, praktisi, politisi bahkan pengusaha. Namun temporer seiring dengan masa jabatan presiden. Semua komponen masuk dalam jajaran birokrasi mendampingi dan membantu tugas-tugas kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. Suka atau tidak suka aturan mainnya adalah birokrasi.

Dari sinilah akan muncul problem komunikasi, komunikasi birokrasi, komunikasi organisasi, komunikasi antar generasi bahkan komunikasi politik. Dalam tulisan ini telaah lebih fokus ke komunikasi antar generasi dan komunikasi birokrasi.

Tujuh Stafsus Milenial masuk kejajaran birokrasi kerumpun Kementrian Sekretariat Kabinet. Posisi ‘kepegawaian’ mereka disetarakan dengan esselon II. Untuk kalangan birokrasi, esselon II posisinya  sama dengan Direktur atau Kepala Biro di Kementrian. Di Provinsi setara dengan Kepala Dinas, Kepala Badan atau Staf Ahli Gubernur. Sedangkan di Kabupaten dan Kota setara dengan Sekretaris Daerah. Jabatan yang cukup trategis.

Uraian diatas untuk menggambarkan bahwa  Stafsus Milenial disetarakan dengan esselon II atau jabatan pimpinan tinggi pratama ketika masuk jajaran bisokrasi di Kementrian Sekretariat Kabinet. Langkah pertama mereka masuk rimba belantara birokrasi. Banyak aturan, rentang kendali, tugas pokok fungsi, hirarkhi, etika birokrasi, tanggung jawab, wewenang, komunikasi dan koordinasi.

Besar kemungkinan Andi Taufan Garuda Putra mundur dari jabatan Staf Khusus Presiden Joko Widodo ditengarai menabrak rambu-rambu birokrasi. Sepucuk surat dari  Staf Khusus Presiden Jokowi, kepada para camat untuk menerima serta mendukung relawan PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) dalam pencegahan dan penanggulangan pandemi virus Covid-19. Sementara itu, Andi Taufan diketahui merupakan CEO PT Amartha. Conflict of Interest.

Surat tertanggal 1 April 2020 nomor : 003/S-SKP-AGTP/IV ditujukan ke Camat se wilayah Indonesia, Perihal Kerjasama Sebagai Relawan Desa Melawan Covid-19, substansinya dalam rangka menanggulangi  dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di wilayah pedesaan Indonesia, kerjasama antar elemen masyarakat baik Pemerintah, Swasta maupun Masyarakat sangat diperlukan, terutama dalam hal edukasi dan penyaluran bantuan.

Terkait dengan Program Relawan Desa Lawan Covid-19 yang diinisiasi oleh Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kami telah menerima komitmen dari PT Amartha Mikro Fintek  (Amartha) melalui surat tertanggal 30 Maret 2020, untuk dapat berpartisipasi dalam menjalankan program tersebut di area Jawa, Sulawesi dan Sumatra.

 

Apa itu birokrasi

Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, di mana lebih banyak orang berada ditingkat bawah daripada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya sipil maupun militer. Suka atau tidak suka Stafsus Milenial harus memiliki etika birokrasi yang memiliki rantai komando. Untuk mengetahui dan memahami itu semua perlu adanya komunikasi birokrasi antara Staf Khusus dengan lingkungan yang ada. Sejujurnya, ketika ada Stafsus yang katakanlah menyebabkan terjadinya maladministrasi seperti yang terjadi, sepertinya komunikasi birokrasi tidak terbangun dengan baik.

Bangunan komunikasi birokrasi yang baik tyetrcermin adanya saling asih asah dan asuh. Apalagi Stafsus Milenial memasuki birokrasi tak ubahnya seperti memasuki hutan belantara yang terasa asing. Andi Taufan seorang CEO, dimana seringkali jabatan CEO dikaitkan dengan kekuatan, tanggung jawab, kehormatan, serta gaji yang sangat tinggi, tiba-tiba harus mengikuti irama birokrasi yang sudah ada pakemnya. Surat keluar apalagi dengan Kop Kementrian Sekretariat Kabinet aturannya sangat ketat dan sudah baku. Walau tidak ada niat jelek atau jahat, namun surat keluar ditandatangani sendiri yang hanya esselon II apalagi menyinggung PT Amartha yang dia sendiri CEOnya pasti akan menimbulkan gejolak.

Gagasan untuk ikut berperan aktif menangani wabah Covid-19, suatu ide yang positif. Namun harus dengan prosedur yang benar dan baik. Salah satu hambatan untuk mengikuti prosedur yang benar dan baik dari aspek birokrasi perlu energy tersendiri. Bisa saja tidak sabar, apalagi harus melewati paraf bebrapa kali, melewati beberapa meja sebelum ditandatangani oleh pejabat yang memang memiliki wewenang. Itu dari sisi prosedur. Padahal dari sisi substansi dan konten perlu dibahas bersama dengan bidang atau bagian atau biro atau deputi tertentu yang relevan.

Pada tahap ini pejabat yang lebih senior seyogyanya memberi bimbingan dan membina bukan justru “membinasakan”. Bagi yang muda sekalipun diluar juga seorang pemimpin yang sudah terbukti keberhasilannya, masuk birokrasi adalah barang baru. Maka perlu belajar, bertanya, menyesuaikan, beradaptasi. Kalau ragu-ragu berhentilah, dan bertanya. Semoga kejadian katakanlah maladministrasi tidak terulang, terutama kepada kaum mudam termasuk Stafsus Milenial. Sangat disayangkan dan menjadi kerugian bersama kemampuan yang luar bisa terhenti hanya karena maladministrasi. Cukup dua saja yang mundur.

Penulis : Pudjo Rahayu Risan, pengurus Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Semarang dan pengurus Yayasan Kepodang Semarang, yang concern terhadap perempuan dan anak dari ketidak berdayaan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here