Change Agent, Antara Tantangan dan Harapan

0
41
Kasubag Umum KPPN Sumedang Mudiyono, S.E.

Penulis : Kasubag Umum KPPN Sumedang Mudiyono, S.E.

Ada sepenggal kisah obrolan ringan di suatu senja antara petugas kebersihan/PPNPN dengan seorang staf yang baru beberapa bulan bertugas di sebuah instansi tempat kami bernaung dan bertugas yang telah kami jalani memasuki tahun ketiga. Sudah lebih dari lima belas tahun PPNPN tersebut mendedikasikan diri mengabdi dan melayani seluruh kepentingan organisasi sebelum masa reformasi birokrasi dicanangkan. Lebih dari lima fase kepemimpinan yang pernah dialaminya.Tentunya style dan ritme para pimpinan sebagai nahkoda dalam fasenya berbeda satu dengan lainnya. Simpulan yang terkemuka dari obrolan ringan tersebut adalah setiap kepemimpinan akan mewarnai corak suatu organisasi. Integritas dan dedikasi merupakan faktor utama yang sangat terekam dalam memory setiap orang yang pernah bersama dalam kepemimpinannya. Obrolan itu sungguh menjadi pelajaran penuh makna dan sarat dengan corak ragam tipical pemimpin dalam  keberlangsungan organisasi.

Dalam kaidah Islam, terkait literatur kepemimpinan terdapat banyak dalil sahih yang dapat kita jadikan rujukan. Salah satu hadis Rasululllah SAW yang sudah sering kita dengar dan termasyhur yang artinya “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara akan dimintai pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Setiap Suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Setiap isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan setiap pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggunganjawaban) dari hal-hal yang dipimpinnya. (Diriwayatkan oleh Buchary dan Muslim).

Secara konteks, hadis di atas berbicara tentang etika kepemimpinan dalam Islam. Makna yang terkandung dalam hadis ini dijelaskan bahwa etika paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggung jawab. Setiap jiwa manusia yang hidup di muka bumi ini disebut sebagai pemimpin. Oleh sebab itu, sebagai pemimpin, mereka semua memikul tanggung jawab, minimal terhadap dirinya sendiri. Seorang suami bertanggung jawab atas istrinya, seorang bapak bertangung jawab kepada anak-anaknya, seorang majikan bertanggung jawab kepada pekerjanya, seorang atasan bertanggung jawab kepada bawahannya, dan seorang presiden, bupati, gubernur bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, dan seterusnya.

Terdapat hadis lain yang masih berkenaan dengan tema kepemimpinan, yang artinya “ Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga. (Diriwayatkan oleh Buchary dan Muslim).

Integritas atau kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa kejujuran, sebuah kepemimpinan ibarat bangunan tanpa pondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama. Begitu pula dengan kepemimpinan, bila tidak didasarkan atas kejujuran orang-orang yang terlibat di dalamnya, maka jangan harap kepemimpinan itu akan berjalan dengan baik. Tetapi kejujuran di sini tidak bisa hanya mengandalkan pada satu orang saja, kepada pemimpin saja misalkan. Lazimnya semua komponen harus terlibat di dalamnya, mulai dari pemimpinnya, pembantunya, stafnya, hingga struktur yang paling bawah dalam organisasi kepemimpinan tersebut, semisal office boy atau tukang kebersihan kantor harus menjunjung tinggi nilai kejujuran. Hal yang tidak dapat dipungkiri dalam realitasnya bahwa tidak sedikit dalam sebuah kepemimpinan, atau sebuah organisasi, terdapat pihak yang jujur namun juga terdapat pihak yang tidak jujur. Andaikata pemimpinnya jujur namun stafnya tidak jujur, maka kepemimpinan itu juga akan rapuh. Begitu pun sebaliknya.

Titik tekan yang menjadi benang merah dalam hadis ini adalah seorang pemimpin harus memberikan keteladanan yang baik bagi para pihak anak buahnya. Keteladanan ini tentunya harus diwujudkan dalam bentuk berbagai kebijakan atau keputusan pemimpin yang tidak menipu, tidak memanipulasi, dan tidak melukai hati bawahannya.

Sejalan dengan Nilai Kementerian Keuangan yang pertama, bahwa integritas adalah suatu bentuk kejujuran yang diimplementasikan secara nyata dalam tindakan sehari-hari. Membumikan nilai integritas sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah organisasi atau perusahaan, agar semua orang di dalamnya dapat saling percaya dan pada akhirnya lebih cepat untuk mencapai tujuan bersama. Apabila kandungan nilai integritas tidak dijalankan, maka kerjasama tim yang dilakukan akan menjadi lebih sulit akibat tidak terbangunnya kepercayaan yang komprehensif di antara anggota tim tersebut.

Seorang pemimpin yang bijak dan amanah sudah tentu menjalankan nilai integritas, karena dialah yang akan dipandang orang lain terlebih dahulu, dijadikan contoh dan teladan terutama bagi bawahannya. Integritas ini juga penting bagi image sang pemimpin itu sendiri. Manakala pemimpin menerapkan nilai-nilai integritas, ia akan diterima sekaligus dipercaya oleh bawahannya sebagai sosok panutan. Ia akan bisa mempengaruhi orang lain karena ketegasan dan keselarasannya antara pikiran dan perkataan. Hal yang berbeda terjadi jika di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, para pemimpinnya tidak dipercaya bahkan tidak mendapat respek dari bawahannya. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri tanpa mengikuti arahan dari pimpinannya. Organisasi atau perusahaan tersebut akan menjadi kacau dan tidak bisa mencapai tujuan dengan baik. Imbas tersebut yang akan terjadi jika pemimpin tidak menanamkan nilai-nilai integritas baik kepada dirinya maupun kepada seluruh komponen dalam organisasi.

Acapkali kita menyaksikan ada bawahan yang justru memiliki nilai integritas yang lebih tinggi dibandingkan pimpinannya. Tindakan preventif terbaik adalah bagaimana menjaga konsistensi dari bawahan tersebut setiap waktu, sehingga hal ini mampu menyadarkan secara pribadi kepada pimpinannya. Tidak perlu harus memberikan koreksi secara langsung, menampilkannya terus menerus dari waktu ke waktu akan memberikan dorongan bagi pemimpinnya itu untuk berubah menjadi lebih baik. Kuncinya adalah mewujudkan lingkungan yang selalu konsisten untuk menjalankan nilai-nilai integritas, sehingga diharapkan nilai-nilai itu akan tumbuh dan mengakar dalam diri setiap orang yang berada di dalamnya.

Sudah dapat dipastikan mesti timbul pertanyaan bilamana ada pemimpin yang mana antara cakap dan perbuatan tidak sejalan. Mereka akan mempertanyakan apakah sosok yang selama ini mereka jadikan panutan sudah pantas disebut sebagai pemimpin. Hal demikian tentunya akan menjadi bumerang bagi pemimpin itu sendiri. Ia akan kehilangan rasa hormat dan kepercayaan dari bawahannya dan bahkan mungkin mereka tidak lagi menaruh respek kepadanya.

Agar kepemimpinan berjalan efektif, seorang pemimpin harus mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan dari orang yang ia pimpin. Kehormatan diri maupun kepercayaan tersebut, baru bisa diperoleh ketika kita melihat sosok yang membuktikan apa yang selama ini dia ucapkan. Contohnya, jika kita melihat orang yang selalu bicara tentang kejujuran atau integritas, maka yang kita harapkan adalah apa yang ia sampaikan tersebut terwujud dalam perilaku atau tindakannya sehari-hari.

Selain itu sifat seorang pemimpin seyogyanya membuktikan apa yang diucapkan selaras dengan perilakunya. Dia harus mencerminkan karakter seorang pemimpin berkualitas yang selalu konsisten dalam perkataan maupun perbuatan. Atau dengan bahasa sederhana, seorang pemimpin yang bersifat siddiq. Dalam sebuah ayat  dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Al Qur’an Ash Shaff : 2-3).

Pemimpin juga harus mempunyai visi yang jauh ke depan tentang organisasi yang dipimpinnya maupun keterampilan dalam mengelola dan mengarahkan organisasinya tersebut. Terdapat banyak hal lain yang juga perlu dilakukan agar seorang pemimpin bisa menjadi sosok panutan yang dihormati dan disegani oleh bawahannya.

Eksistensi pemimpin dalam organisasi sebagai manajamen puncak atau leader sangat strategis perannya. Arah dan tujuan organisasi sebagian besar menjadi tertumpu pada kebijakan dan style pimpinan. Hal ini merupakan sesuatu yang sudah lazim dan dimaklumi adanya. Pemimpin yang baik bukan dilihat dari seberapa banyak pengikutnya, bukan juga dilihat dari seberapa lama ia memimpin. Pemimpin yang baik menjadi cermin bagi bawahannya dan sekaligus mampu menciptakan sosok pemimpin yang baru.

Gaya dan karakter kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting bagi keberhasilan sebuah organisasi. Untuk itu, ada beberapa sikap kepemimpinan dalam organisasi yang perlu diterapkan oleh seorang manajamen puncak, diantaranya:

  1. Menjalin kedekatan dengan anak buah

Gaya kepemimpinan akan menjadi lebih efektif jika seorang pemimpin telah mendapat respek dari anak buah. Hal ini bisa dibangun dengan menjalin kedekatan (intimacy) bersamanya, sehingga mereka akan percaya dan mau mengikuti arahan kita.

 

2. Memberikan semangat dan motivasi

Seni memimpin organisasi bukan melulu soal pangkat dan jabatan, tetapi kepemimpinan adalah bagaimana seorang pemimpin dapat memberikan semangat dan motivasi, bahkan untuk setiap hal sekecil apapaun dari pekerjaan yang bawahan lakukan.

 

3. Memberikan kepercayaan dan tanggung jawab

Pendelegasian kewenangan dalam batas tertentu sesuai dengan kompetensi dan kualifikasi pegawai sangat dimungkinkan oleh pimpinan. Memberikan kepercayaan kepada staf serta tanggung jawab yang lebih dalam melakukan tugas mereka dapat sebagai sarana peningkatan diri dan pengembangan pegawai yang bersangkutan. Jika ada hal yang tidak sejalan, sebaiknya jangan langsung menghakimi. Berikanlah umpan balik dan koreksi agar ke depannya mereka tidak takut salah dalam mengambil sebuah keputusan.

Agar seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik, tentunya akan dibutuhkan pengalaman panjang selama bertahun-tahun di dalam sebuah organisasi, diperlukan jam terbang yang tinggi dalam memimpin di berbagai lapisan manajamen.

Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan bersama atau visi yang telah ditetapkan secara hierarki dari insitusi yang lebih tinggi. Untuk meraih tujuan tersebut secara efektif diperlukan manajemen yang baik dan benar. Terdapat berbagai pendapat tentang pengertian manajemen, meskipun pada dasarnya mempunyai makna yang mirip kesamaan antara satu dengan lainnya.

Mary Parker Follet menyatakan bahwa manajemen adalah the art of getting things done through people, yaitu sebagai suatu seni untuk mendapatkan segala sesuatu dilakukan melalui orang lain. Dalam realitanya, bahwa manajer untuk mencapai tujuan organisasi dengan mengatur orang lain melakukan pekerjaan yang diperlukan, tanpa melakukan pekerjaan sendiri.

Konsep tentang manajer dan manajemen saling terkait. Menurut pandangan Drucker, manajemen merupakan praktik spesifik yang mengubah sekumpulan orang menjadi kelompok yang efektif, berorientasi pada tujuan, dan produktif. Sementara itu Dubrin mengartikan bahwa manajemen sebagai suatu proses menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi melalui fungsi planning dan decision making, organizing, leading dan controlling.

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengawasi pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organiasi yang tersedia untuk mencapai tujuan organisasi yang dinyatakan dengan jelas. (Stoner dan Freeman). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses penggunaan sumber daya organisasi dengan menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Akhirnya terpulang kepada kita sebagai pimpinan, sebagai agen perubahan (Change Agent) mau dibawa kemana organisasi yang kita pimpin? Dengan pola kepemimpinan seperti apa dalam memanaje-nya? Karena setiap kepemimpinan yang kita emban  adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan, kepada pimpinan di atas kita, dan terutama akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT hari Yaumul Hisab. Berhati-hatilah dalam menapaki perjalanan dengan amanah kepemimpinan yang ada di pundak kita. Cerdas dalam fikir, sopan santun salam bercakap, bijak dalam sikap dan policy untuk kemaslahatan bersama. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, memberkahi, dan menjadikan amal salih yang akan kita panen di kehidupan akhir yang kekal abadi nanti.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/P01/2018 tentang Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan;
  2. Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Subbagian Umum KPPN;
  3. Manajemen Perubahan (Edisi III), Prof. Dr. Wibowo, S.E, M. Phil.
  4. Membangkitkan Energi Diri [Self-Power], Ahmad Salim Badawilan;
  5. Quantum Life Transformation, Adi Gunawan;
  6. Ada Allah Masalah Tiada, Ferudun Ozdemir;
  7. Change Management dalam Reformasi Birokrasi, A. Qodri Azizy;
  8. Ispirasi dari Langit Ketujuh, Mahmud asy-Syafrowi;
  9. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, Ary Ginanjar Agustian
  10. Membumikan Magnet Rezeki, Tim CT.MR TFT 3 – Magnet rezeki;
  11. Kajian Magnet Rezeki, Nasrullah & Ardi Gunawan

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here