Bupati KBB Aa Umbara Main Mata Dengan Saksi Caca Permana Saat di persidangan

0
328

Saksi Kunci Caca Ditegur Hakim Karena Jawaban Yang Berbelit-belit, Aa Umbara keluarkan Jurus Menangkis Dari pengakuan Caca

KBB, SMI.

Ada yang berbeda dalam sidang kasus gratifikasi yang melibatkan mantan Bupati Bandung Barat, Abubakar, di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (15/10/18) kemarin, hal ini dikarenakan jawaban saksi Caca Permana (Bendahara Indag KBB) dinilai majelis hakim yang dipimpin Fuad Muhammadi, berbelit-belit dan tidak tegas dalam memberikan keterangan, sehingga tim JPU KPK dan Hakim pun sempat geram dibuatnya.

Dalam sidang kali ini, tim JPU KPK menghadirkan enam orang saksi, antara lain Bupati KBB terpilih Aa Umbara Sutisna, Mantan Cawabup Bandung Barat Maman Sunjaya, Kabid Aset Badan Pengelolaan Keuangan Daerah KBB, Asep Wahidin Sudiro, Kabid di DPMPTSP KBB, Toni Mulyawan, Staf Indag KBB, Caca Permana dan Sekdis Indag, Avira Nurfasihah.

Dalam sidang tersebut, Jaksa KPK, Budi Nugraha mencecar pertanyaan kepada Aa seputar aliran uang termasuk mengkonfrontir keterangan saksi sebelumnya Caca, Bendahara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bandung Barat.

Aa Umbara membantah tuduhan yang dilayangkan kepada dirinya terkait soal aliran dana bancakan dari para kadis dilingkungan Pemkab.Bandung Barat yang dikumpulkan terdakwa Weti Lembanawati yang kemudian diberikan kepada Aa Umbara yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua DPRD KBB.

Sebelumnya Penuntut Umum KPK telah mengingatkan tentang Pasal 21 dan Pasal 22 UU No. 31 Tahun 1999 Sebagaimana Dirubah dan Ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang PTPK, agar Aa Umbara Sutisna tetap pada keterangannya.

Saksi Caca Permana (kemeja abu – abu/berkacamata) beri keterangan berbelit – belit saat sidang gratifikasi yang melibatkan mantan Bupati Bandung Barat, H. Abubakar

“Apakah saudara saksi pernah menerima uang dari Weti dengan total Rp 255 juta,” kata Budi. “Tidak pernah menerima. (Lewat ajudan dan sopir) tidak pernah juga,” ucap Aa Umbara.

Selain itu, Aa Umbara pun membantah saat ditanya jaksa KPK soal adanya dana ‘pelicin’ dari eksekutif dalam setiap kegiatan atau program yang membutuhkan pengesahan atau persetujuan dan DPRD KBB. “Tidak pernah minta sesuatu (uang) ke eksekutif. Tidak pernah,” ujarnya.

Namun Aa Umbara tidak menampik saat ditanya JPU jika Aep adalah sopirnya dan Yadi ajudannya. Dimana dari keterangan Caca uang tersebut diberikan kepada Aep dan Yadi.

Padahal menurut pengakuan Caca, dirinya pernah memberikan sejumlah uang sesuai dengan catatan yang ditampilkan JPU KPK dalam infokus diruang persidangan. “Betul saya serahkan uang (ke Aa Umbara), atas perintah Bu Weti,” jawab Caca.

Mendengar jawaban Caca, Budi pun kembali menanyakan kepada Aa Umbara soal keterangan Caca tersebut. Orang nomor satu di Bandung Barat tersebut tetap pada pendiriannya. “Tidak pernah. Saya tidak pernah terima,” tegasnya.

Dalam kesaksiannya, Caca Permana banyak berbelit-belit dan mengaku lupa, padahal dipersidangan dengan terdakwa Asep Hikayat Kepala BLOSSOM (tervonis), Caca bisa menerangkan secara gamblang soal aliran dana yang dikumpulkannya dari hasil bancakan para kepala SKPD di Pemkab KBB.

Bahkan JPU Budi pun sempat meminta agar Caca jujur dan jika berbohong atau memberikan keterangan palsu ancaman tiga tahun penjara menantinya. Namun tetap saja jawaban Caca berbelit – belit “Saya diminta serahkan uang berulang kali oleh Ibu Weti ke Aep, tidak diserahkan ke ketua,” katanya.

Karena kesal dengan jawaban Caca yang selalu berubah Budi pun membacakan keterangan Caca di BAP, bahwa ia menghubungi Aa Umbara, kemudian Aa Umbara memintanya untuk menyerahkan uang itu ke sopirnya di Pasteur. Akhirnya Caca mengakuinya. “Iya betul, keterangannya seperti itu,” ujar Caca.

Jaksa juga menanyakan soal rumah Aa di Lembang, pernah ke Hotel Topas di Pasteur dan ajudan Aa bernama Yadi. Saat ditanyakan, Aa menjawab benar atas semua pertanyaan jaksa. Jaksa lalu menampilkan layar yang isinya berupa catatan tangan. Gambar itu juga sempat dibuka jaksa saat memeriksa kesaksian Caca.

“Ada catatan namanya bancakan SKPD di catatan ini, ada penyerahan uang Rp.100 juta ke ketua di rumah Lembang, Rp.20 juta kepada sopirnya di Kota Baru, Rp.75 juta kepada ajudan di Topas (hotel), Rp.25 juta kepada ajudan rumah Lembang, juga tertulis Rp.35 juta kepada Aep. Total ada Rp.255 juta,” kata jaksa.

JPU KPK Budi Nugraha kemudian menanyakan lagi kepada Caca yang duduk tepat belakang Aa Umbara tentang penyerahan uang kepada Aa atas perintah Weti Lembanawati, yang kala itu menjabat sebagai Kadisperindag Bandung Barat.

Sesuai kesaksian sebelumnya, Caca membenarkan apa yang ditanyakan oleh jaksa, “Iya betul,” kata Caca. Jaksa juga menanyakan kepada Caca apakah dirinya pernah mengontak Aa terkait pemberian uang tersebut. Caca membenarkan hal tersebut, bahkan mengaku masih menyimpan nomor telepon Aa di ponsel yang kini disita KPK.

“Betul saudara menelepon berkaitan dengan penyerahan uang ? Ke sopir dan ajudannya Aa. Umbara Sutisna ?,” tanya jaksa. “Iya pak betul,” kata Caca menjawab.

Usai bertanya soal hal itu, jaksa kemudian meminta tanggapan dari Aa atas pengakuan Caca, namun Aa menangkis pengakuan Caca tersebut, As konsisten dengan jawabannya tetap menjawab “Tidak benar”.

Menurut Budi, “Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)” jelasnya.

Hakim sempat menskors sidang karena bertepatan dengan waktu maghrib. Setelah itu, sidang dilanjutkan kembali. Giliran hakim mencecar sejumlah pertanyaan kepada Aa. Hakim mempertanyakan berdasarkan BAP terhadap Caca yang menyebutkan menerima uang dari sejumlah SKPD dengan nominal beragam dari terendah Rp.5 juta hingga tertinggi Rp.18 juta.

Sesuai dengan yang tercantum dalam BAP Caca, penyaluran uang itu dilakukan secara bertahap dan diserahkan kepada ajudan dan sopir Aa atas permintaan Aa saat dihubungi oleh Caca melalui telepon, namun keukeuh Aa membantahnya,

“Tidak yang mulia,” ucap Aa menjawab setiap pertanyaan hakim.

Saat pertanyaan yang sama diajukan hakim kepada Caca, dijawab berbeda dengan jawaban Aa, ia membenarkan, “Benar yang mulia,” kata Caca.

“Itu yang tercatat di berita acara, terserah kalau saudara (Aa Umbara) tidak mengaku, tapi yang memberi merasa,” kata hakim melanjutkan.

Beda pendapat ini membuat hakim meminta jaksa untuk menghadirkan Aep dan ajudan Aa waktu 2015 bernama Yadi untuk dimintai keterangan dan dikonfrontir dengan Caca. “Kalau perlu, saudara Aep dijadikan saksi, dipertemukan dengan Caca ya,” kata Hakim. “Baik yang mulia,” ucap jaksa menimpali.

Banyak pengakuan Caca dalam persidangan kali ini dengan persidangan sebelumnya, dimana dia menyebutkan jika dirinya diperintahkan Weti Lembanawati untuk meminjamkan sejumlah uang. “Ibu Weti bilang pak Ketua (Aa Umbara) mau pinjam uang, lalu saya serahkan beberapa kali, nilainya saya lupa,” ujar Caca.

Kembali dipersidangan giliran Hakim Fuad Muhamadi sebelumnya menanyakan keterangan dari saksi PNS Bandung Barat bernama Caca. Jaksa menunjukan tulisan tangan yang disebut ditulis oleh Caca dalam sebuah monitor di ruang sidang. Tulisan tangan Caca yang bertugas sebagai bendahara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) tersebut mencatat aliran uang dari para kepala dinas untuk pemenangan Elin Marliah istri Abubakar saat Pilkada serentak beberapa waktu lalu.

Meski sempat berkelit, Caca akhirnya mengakui ada uang yang diserahkan ke Aa Umbara. Ia pun menjelaskan terkait aliran dana tersebut. Namun dalam catatan, terlihat ada aliran uang ke ketua dengan besaran Rp.100 juta yang diserahkan kepada seseorang bernama Aep. Jaksa KPK Budi Nugraha menyebut Aep merupakan sopir Ketua DPRD Bandung Barat Aa Umbara sesuai berita acara pemeriksaan (BAP) Caca.

Hakim merespon dengan mempertanyakan mengapa uang tersebut diberikan kepada Ketua DPRD secara berkala. “Makanya lucu ini, anda sehari tiga kali menyerahkan uang ke Ketua DPRD, kenapa tidak langsung Rp.100 juta. Terus kenapa juga ini Ketua DPRD minjem segala,” katanya.

Hakim kemudian menyebut akan mengkonfrontir keterangan Caca dengan Aa Umbara. Bupati Bandung Barat itu memang akan dimintai keterangan usai kesaksian dari Caca dan 3 PNS Bandung Barat lainnya.

Sidang yang berlangsung hingga larut malam ini akhirnya ditunda hingga pekan depan dengan agenda keterangan terdakwa dan saksi. **Lina

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here