Bengkel yang Tetap Eksis di Tengah Badai Krisis, dengan Sistem Jemput Bola

0
11

Penulis : Untung Teguh

Kendaraan roda dua dan roda empat hilir mudik berganti-ganti keluar masuk di sebuah bangunan dekat dengan SD Meteseh itu.

Sebuah bangunan besar bertuliskan Tri Mutiara terpampang cukup jelas. Bangunan itu terdiri dari dua bagian. Satu bagian untuk area servis dengan latar belakang etalase toko dengan peralatan dan kebutuhan bengkel yang lengkap .

Beberapa orang menunggu dengan sabar, duduk di bangku keramik memanjang, mereka adalah para pelanggan yang menunggu dengan sabar sampai keperluan mereka dilayani.

Di sisi lain, sebuah etalase yang cukup luas, terlihat karyawan melayani pelanggan dengan sabar. Mengambilkan barang yang dibutuhkan pelanggan.

Beberapa mekanik tampak sibuk melayani membongkar dan memasang peralatan sepeda motor. Mengganti olie, memperbaiki bagian mesin yang rusak, memasang lampu, bahkan beberapa orang sibuk dengan alat las sederhana.

Itu adalah sebagian aktifitas bengkel Tri Mutiara yang  lokasinya ada di kedungwinong kelurahan Bulusan kota Semarang. Sebuah bengkel yang mampu bertahan dari serangan krisis akibat pandemi virus corona.

Mas Sulistiyono pemilik bengkel mengisahkan pengalamannya bahwa dahulu bengkel itu bentuknya hanya sederhana. Hanya sebuah bangunan toko dengan barang yang kurang lengkap. Servis ringan, ganti olie, dan tambal ban adalah fasilitas yang ia sediakan bagi para pelanggan.

Seiring dengan berjalannya waktu, usahanya berkembang. Ia bahkan berhasil membeli tanah  di sebelah bengkel yang kini menjadi tempat pencucian mobil dan gudang ban mobil dan motor.

Para karyawannya yang berjumlah puluhan orang adalah warga sekitar, yang pada mulanya mereka adalah para pemuda pengangguran.  Semuanya ia rekrut dan ia beri pelatihan dasar, sehingga sekarang semua karyawannya ahli di bidang masing-masing. Mekanik mesin motor, tukang pasang ban, juga spesial pencuci mobil.

Sulis mengaku ia hanya tamatan SMA, dengan anak semata wayang dan satu istri yang telah dimilikinya sekarang, ia mengaku bersyukur atas anugerah Tuhan yang telah diterimanya. Sebab ia tak menyangka, usahanya yang dimulai dengan coba-coba ini telah mengantarkannya menjadi seorang pengusaha yang dibilang sukses.

Saat pandemi menyerang, banyak usaha yang dilihatnya sepi peminat. Restoran, wisata, dealer mobil/motor, kafe, katering, event organizer, pemilik usaha hiburan. Hampir semuanya tumbang karena tak mampu bertahan.

Sulis mengakui bahwa selama pandemi bengkelnya juga mengalami penurunan dratis. Penyebabnya karena social distancing dan menghindari kerumunan orang  yang terus digalakkan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus, menyebabkan orang enggan untuk berinteraksi dengan orang lain,v dan memilih untuk tetap diam di rumah. Bahkan dirasakan para pelanggan cucian mobilnya juga mengalami penurunan yang sangat signifikan.

“Sehari paling hanya satu dua orang yang datang melakukan servis”, katanya datar.

Itu pun karena kendaraannya sudah sangat parah. Tidak bisa berjalan karena mengalami masalah mesin.

Tri berpendapat ia harus tetap bertahan. Selain memiliki tanggungan keluarga ia juga memiliki tanggungan karyawan yang harus tetap menghidupi keluarga.

Sehingga ia memantapkan hati membuka toko di pasar online. Ban motor, ban mobil, velg motor, velg mobil ia tawarkan di marketplace dan aplikasi daring. Sehingga usahanya tetap bertahan dan para karyawan yang menjadi tanggungannya  masih bisa mendapatkan penghasilan.

Anak buah  Sulis  juga melayani servis panggilan di wilayah Tembalang dan sekitarnya. Sehingga orang-orang yang enggan bepergian, tapi punya masalah dengan kendaraannya tetap bisa terlayani dengan sistem jemput bola.

Ia juga menyediakan layanan penjemputan mobil bagi para pelanggan yang ingin mobilnya dicuci tapi sedang sibuk dengan aktifitas lain.

Hari ini Sulis  boleh berlega hati. Pandemi memang belum bemar-benar berlalu. Tapi usaha bengkelnya sudah mulai berangsur pulih. Karena pemerintah kota Semarang terus menyuarakan kehidupan new normal. Kebiasaan baru bagi warga yang beraktifitas dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dan hal ini memberikan angin segar bagi usaha yang dijalankan Sulis. Pelanggannya terus berdatangan dan mendapatkan pelayanan prima. Dan ia terus menjalankan bisnisnya dengan penjualan peralatan kendaraan lewat pasar online.

Dan rejeki seseorang memang tidak bisa disangka. Sebab semua benda-benda hanyalah titipan dari Sang Khaliq. Dan Sulis  akan terus bertahan menjalankan usahanya tetap dengan menghadirkan senyum kepada para pelanggan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here