Bayar Zakat Fitrah di Tengah Pandemi Corona

0
40

Sumedang, SMInews.com Zakat Fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan umat islam di bulan ramadhan, bahkan zakat fitrah merupakan rukun islam yang ketiga, Artinya adalah bahwa siapapun umat islam wajib menunaikan rukun islam tersebut.

Makna zakat fitrah adalah untuk penyucian jiwa, jadi dengan zakat yang ditunaikan maka jiwa seseorang bisa suci Sehingga kemuidan kita kenal dengan idul fitri setelah ramadhan, disempurnakan dengan zakat fitrah maka orang kembali dengan kesucian.

Pada Bulan ramadhan tahun ini, berkenaan dengan wabah covid-19, dalam kondisi ini tentunya memang ada beberapa hal yang perlu kita cermati, karena memang pandemi covid-19 ini berdampak pada ekonomi masyarakat.

Meskipun dalam kondisi covid-19, Baznas Kabupaten Sumedang tetap menyerukan kepada masyarakat untuk tetap menunaikan zakat fitrah, karena walau bagaimana pun umat islam tetap berkewajiban untuk menunaikan zakat fitrah.

Baznas tetap optimis, meskipun dalam kondisi pandemi covid-19  yang kemudian banyak dari kalangan masyarkaat yang terdampak secara ekonomi, tetapi tetap baznas mendorong kepada perangkatnya ditingkat  bawah untuk tetap memaksimalkan pengumpulan zakat fitrah.

Menurut Wakil Ketua 1 Baznas Kab. Sumedang Bidang Pengungumpulan, Rahman Sanusi, S.Ag,. M.Pd.I  dengan penunaian zakat fitrah ini maka masyarakat sudah menunaikan perintah Alloh, sehingga dalam kondisi seperti ini maka dengan zakat fitrah Insya Alloh akan memberikan keberkahan.

“Ibadah itu kan tidak dalam kondisi lapang ataupun sempit, dalam kondisi apapun manusia harus beribadah kepada Alloh. Maka termasuk salah satunya zakat fitrah, dalam kondisi sempit pun seperti kondisi covid-19 ini, maka tetap umat islam harus menunaikannya. Dan kami yakin masyarakat mempunyai kesadaran yang tinggi.

Sehingga ada istilah “sing sakumaha ripuhna ge sok maksakeun, belaan kumaha bae” (sesulit apapun pasti memaksakan, bagaimanapun akan dilakukan”  yang penting bisa menunaikan zakat fitrah dibulan romadhon.

Rahman Sanusi juga mengatakan bahwa Baznas sudah mengeluarkan surat edaran kepada UPZ Kecamatan, Desa dan panitia pengumpul di tingkan DKM atau RW terkait protokol covid-19. Untuk dikomunikasikan dan disosialisakakan kepada masyarakat, bahwa dalam pelaksanaan penerimaan dan pengumpulan zakat fitrah ini harus tetap memperhatikan protokol covid-19.

“Panitia harus memperhatikan kesehatan, seperti menggunakan masker, sarung tangan dan menjaga kebersihan, warga masyarakatpun yang hendak membayar zakat fitrah maka diharuskan untuk memakai masker. Dan nanti di tempat penerimaan zakat, panitia wajib menyediakan handsanitizer atau tempat untuk cuci tangan” jelasnya.

Sesuai dengan surat edaran dari Kementerian Agama dan Bupati Sumedang, untuk pengumpulan zakat fitrah termasuk infak dan sedekah itu mulai di tanggal 10 Ramadhan. Sehingga ada waktu yang panjang,  Jadi masyarakat dalam kondisi pandemi ini tidak harus berbondong – bondong atau antri untuk membayar zakat fitrah. Panitia pengumpul zakat akan mengatur sedemikian rupa supaya masyakat tidak berbondong – bondong dan berkumpul sesuai dengan protokol covid-19.

Untuk tahun ini, di Kabupaten Sumedang  Zakat fitrah per jiwa 2,5 kg beras jika diuangkan di Rp. 30.000 dengan mempertimbangkan harga beras 12 ribu perkilogram.

Selain itu, baznas kabupaten Sumedang juga menggebyarkan infak, “Kita punya produk kupon infak 2000, yang diluar Ramadhan juga sudah berjalan, jadi kita berjalan per triwulan melalui UPZ kecamatan, tapi memang volumenya terbatas, karena karena sesuai dengan target masing – maisng UPZ kecamatan” paparnya.

Dibulan Ramadhan ini mencoba untuk menambah volume kupon 2000. Jadi kupun 2000 di bulan romadhon ini sejumlah zakat fitrah. “Karena ini dalam kondisi covid -19, peruntukanya pun berbeda dengan infak 2000 yang kita sebar di bulan romadhon ini, edisi romadhon ini lehih kepada untuk penganganan covid-19 dan pada jaring pengaman sosial ekonomi masyarakat” Pungkasnya.

Ditempat terpisah,  Sekdes Cikole Ajid mengatakan bahwa Meskipun situasi dalam covid-19 dan ekonomi sedang terpuruk, zakat tetap wajib hukumnya bagi setiap orang yang beragama islam. Dia yakin masyarakatnya  masih mampu untuk mengeluarkan zakat.

“Kecuali orang sudah tidak bisa apa – apa, tidak punya yang bisa dijual, tidak punya uang, tidak punya beras  itu tidak punya kewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah” ucapnya.

Untuk penerimaan zakat di Desa Cikole menurutnya akan diusahakan tentang kebersihanya, tempat cuci tangannya, atau handsanitizer dan menggunakan masker. Masyarkat juga yang mengeluarkan zakat diusahakan jangan ada antrian, dan tetap jaga jarak sesuai dengna protokol kesehatan.

Pewarta : Y. Rusmana

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here