1.163 Desa di Jateng Alami Kekeringan

0
32
Dari kiri ke kanan : Dr.Ir. Tejo Mulyono, Ir. Ketut Arsa Indra WataraSP.1, Moch. Ichwan anggota Komisi D DPRD Jateng

SEMARANG, SMI.-

Kawasan di pantai utara, yang berada di bagian timur Jawa Tengah diprediksi akan mengalami kekeringan lebih panjang dibanding daerah lain pada musim kemarau tahun ini. BMKG memprediksi kekeringan akan melanda kawasan tersebut hingga akhir oktober mendatang.

Dibeberapa kawasan memiliki kekeringan lebih panjang, karena curah hujan yang begitu rendah. Dibeberapa tempat diketahui masih memiliki persediaan air selama musim kemarau tahun ini. Namun, diwilayah lain sudah mulai kekurangan. Petani pun diminta untuk mengantisipasi hal ini dengan memilih tanaman yang memerlukan sedikit air, dan jangan memaksakan untuk menanam padi. Kondisi ini telah diantisipasi dengan berbagai cara, termasuk pembuatan embung untuk menahan air selama musim kemarau berlangsung.

Gerakan pembangunan 1.000 embung di Jawa Tengah terus digalakkan guna mengantisipasi kekeringan yang melanda setiap kemarau datang. Pembangunan embung, pengolahan air, tanah dan DAS  harus menjadi konsen oleh semua pihak, baik Pemerintah Pusat maupun pemerintah kabupaten/ kota di wilayah Jawa Tengah.

Diharapkan pula ada sponsor dari pihak swasta. Sebagai contoh kerja sama pihak swasta berhasil membangun embung di Klaten dengan ukuran 70 x 40 M dan disubsidi oleh negara dengan dana 1,5 miliar. Terealisasinya pembangunan 1000 embung dan berfungsinya waduk besar di Jawa Tengah sangat penting untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan di Jawa Tengah serta wilayah sekitanya.

“Wilayah provinsi Jawa Tengah berpotensi mengalami kekeringan akibat kemarau panjang tahun ini. Wilayah jateng yang mengalami kekeringan ini  ada sekitar 252 Kecamatan, 1163 desa/ kelurahan, 1794 jiwa serta 559 KK. Sementara yang aman ada 3 daerah. Dari tahun 2015 hingga tahun 2018, untuk sementara Pemerintah hanya mampu membangun 75 embung dari rencana 1000 embung,” tutur Moch. Ichwan selaku anggota komisi D DPRD Jateng dalam prime topic dengan tema “ Mengakhiri Kekeringan “ yang disiarkan secara langsung MNC Trijaya FM di gedung Kerjasama ruang broadcasting kampus Polines Jl. Prof.Soedarto Semarang senin 27/8-18 .

Menurutnya, pembangunan embung belum memenuhi target, seperti didaerah Pati, pembuatan embung ditengah kota, mestinya di diatas/lereng pegunungaan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hanya sebatas untuk mengairi sawah. Banyak juga kendala dilapangan misalnya, penyediaan lahan sering terbentur dengan tanah bondo deso, mestinya tanah harus hibah dari masyarakat.

Sementara itu, Kepala Bidang Irigasi air baku Pusdataru Provinsi Jateng, Ir. Ketut Arsa Indra Watara menuturkan, bahwa pihaknya saat ini terus menggenjot pembangunan 1.000 embung untuk mengantisipasi kekeringan di wilayah jawa tengah. Meski proses penyediaan lahan masih mengalami banyak kendala, namun pemerintah memiliki solusi seperti tukar guling untuk merealisasikan program itu.

“Apabila tanah yang dibangun embung tersebut milik kabupaten, maka pemprov yang memberikan desainnya  untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan. Apabila lahan yang akan dibangun  embung bukan milik pemerintah, maka ada beberapa tahap walaupun memakan waktu yang cukup lama. Caranya dengan melakukan tukar guling dengan lahan lain milik pemerintah agar aset daerah tidak hilang, meski prosesnya agak lama karena kita berkejaran waktu agar pembangunan embung bisa berjalan sesuai target yang diinginkan,” tukasnya. **M. Taufik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here